Alat Tulis Dan Senja
Oleh: PUJANGGA DEKIL
Senja kembali hadir di sela-sela bukit. Awan-awan putih kian kelabu bersemburat
cahaya mentari senja. Aku masih terpaku
dalam kepahitan itu.
Tatapanku hampa, fikiranku jauh mengembara menembus batas
langit. Akankah pangkal malam kali ini masih sama seperti hari-hari
kemarin?
Sejenak aku menyibak tirai
kehidupan yang kian melapuk dalam kekosongan. Jalanan di depan saung itu,
sekumpulan debu kian damai dari usikan badai.
Sesaat ku layangkan
pandangan ke ufuk barat. Senja itu
kian ditelan temaram. Buku yang ada
dalam genggamanku turut diam membisu dalam kesunyian seraya mengamati realita hidup.
Aku pun tersenyum sembari berkata-kata dengan pena:
"Hmmm, apakah kamu tahu? Mengapa kau
penaku, bukuku, dan sekumpulan awan-awan di langit itu yang selalu aku ajak
bercengkrama?
Ah, aku tahu. Kalian tak
akan bisa menduganya. Kendati demikian,
kalianlah yang paling mengerti diriku, mau mendengarku, dan selalu ada dikala
aku membutuhkan sandaran jiwa.
Hanya
bersama kalianlah aku masih bisa tetap mempertahankan topeng kepura-puraan
ini. Hei pena dan buku, apakah kalian masih sanggup menada semua
kepedihanku?"
Suara jangkrik membangunkanku dari
ketermenungan panjang itu. Tak ku sangka
senja itu telah berganti taburan bintang-bintang, dan sepotong bulan
sabit yang menghiasi langit.
Senja itu kini
telah jauh berlalu tanpa ku sadari. Aku bergegas melangkahkan kakiku
untuk berlalu dari tempat yang damai itu, dan diiringi salam perpisahan dari
alam dengan sebuah harapan untuk bisa bersama lagi.
Sesungguhnya aku tak ingin memisahkan diri
dari tempat tersebut. Tetapi mau bagaimana lagi? Aku juga harus memenuhi
kewajibanku selagi nafasku masih berhembus. Meskipun demikian, aku tetap mengukir indah harapan itu di balik
senyuman mentari esok yang abadi.
Oh iya, Namaku adalah Ifan. Aku tak tahu mengapa kedua orang
tuaku memberikan nama itu kepadaku. Aku
juga mempunyai seorang kakak yang bernama Sandi.
Dia lah yang sekarang menemani orang tuaku di
kampung sana. Aku kini merantau sambil
mengejar cita-citaku.
Aku tinggal
bersama pamanku, beliau adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya karena
sakit. Ia tak mempunyai anak.
Di rumah hanya kami berdua yang
menjadi penghuninya.
Pamanku ini orang yang paling bijaksana dan ramah ke siapapun. Profesi beliau adalah seorang guru sekolah
dasar.
Aku selalu dimintanya untuk ikut
membantu ia mengajar di sekolah, jika aku sedang tidak ada Mata Kuliah.
Aku sementara ini menempuh pendidikan perguruan tinggi negeri di kota. Aku Kuliah
mengambil jurusan pendidikan bahasa dan sastera Indonesia.
Aku juga mempunyai harapan bahwa suatu kelak
nanti, aku akan menjadi seorang yang bisa berguna bagi semua orang.
Hobi aku adalah
menulis, membaca dan aku juga seorang penghayal yang pasif. Karena menurutku, dengan ketiga hobi tersebut
aku akan menjadi diriku sepenuhnya.
Moto
hidupku ialah: Hidup untuk mencari kebenaran, dan untuk mati.
Kudayungkan pedal sepedaku di atas jalanan beraspal.
Sepeda melaju dengan pesat melewati satu persatu gedung pencakar langit di
pinggir jalan.
Aku sempat berpikir.
Lahan-lahan kosong milik rakyat yang
masih kosong di kiri dan kanan jalan , suatu ketika akan
berdiri kokoh bangunan beton.
Anak-anak yang berlarian bermain di bawah
taburan sinar bulan sepotong , akan hilang ditelan zaman yang tak pandang
bulu kepada apapun.
Sudah terlalu banyak
keresahan di hati setiap pecinta Bangsa ini. Namun apalah daya, kekuasaan
negeri ini bukan lagi di tangan rakyat tapi didalam cengkraman kuku-kuku
serigala kelaparan.
Sekonyong-konyong klakson mobil bus mengagetkan
aku dari lamunan yang terlalu ngiris itu.
Kondektur bus sempat berteriak memakiku dengan bahasa Jawa yang
medok.
Alhasil bukan jadi menakutkan
diriku, malahan terdengar sangat lucu di kuping. Akupun sempat berpikir untuk balik mengolok
kondektur itu.
Tapi aku teringat akan
nasib temanku Rudi, yang perna dihajar sekumpulan kondektur bus di terminal. Hanya karena dia mengolok seorang kondektur yang sedang berteriak-teriak
memanggil penumpang.
"Hai Ifan."
ada suara seseorang yang memanggilku dari pelataran sebuah rumah di
pinggir jalan. Ternyata dia adalah seorang gadis yang tak asing lagi bagiku.
Dia adalah
Murti teman kelasku. Aku berbalik arah dan ku hampiri dirinya. Dia tersenyum dan memamerkan tahilalat kecil di
pipinya, yang menurut teman-teman kelasku, setitik tahilalat tersebutlah yang
membuatnya terlihat menarik.
Dia menyambut tanganku, sembari
berkata:
"Kamu dari mana?
Kelihatannya kamu sangat kusut hari ini."
"Ah, aku tidak dari mana-mana kok.
Aku hanya mencari
tempat yang strategis untuk menyegarkan sikisku ini."
Aku menjawabnya dengan tersenyum simpul.
Diapun hanya tertawa, dan mengolokku. Aku berkata padanya, bahwa aku tidak bisa
mampir. Aku buru-buru pulang, takut ditunggu paman di rumah.
Setelah
memandang senyumnya untuk pangkal malam yang istimewa itu, akupun berlalu dari
sana.
"Nanti kalau kamu lewat lagi di depan rumahku ini, kalau
kamu tidak mampir, aku tidak mau kenal kamu lagi."
teriaknya sembari melambaikan tangan.
Aku hanya membalas lambaiyan tangannya itu, dengan sedikit beratraksi dengan
sepeda seperti pembalap kawakan.
Beberapa bulan telah berlalu semenjak aku bertemu temanku Murti. Kini aku sering berkunjung di rumahnya. Orang tuanya
welcome denganku.
Ayahnya bekerja di salah satu perusahan suwasta. Ibunya sebagai seorang guru sekolah menengah atas di
dekat tempat tinggal mereka.
"Eh, Ifan!?
Kamu tidak kuliah hari ini?"
Kata
paman yang baru pulang mengajar, dan menengok ke dalam kamar melalui pintu yang sedikit terbuka.Aku kaget dari lamunanku yang panjang.
"Tidak paman.
Aku lagi kurang enak badan."
Jawabku dengan sedikit
gugup.
"Terus, kamu sudah makan dan minum obat belum?"
Tanya
pamanku itu kembali.
"Sudah
paman."
Jawab ku dengan sedikit menggeliat.
"Ya udah kalau begitu."
Ucapnya sembari berlalu dari
depan pintu kamarku.
Aku beristikfar dalam hati:
"Astakfirullah. Aku sudah
berbohong sama paman."
Aku mengunci pintu kamar, dan ku
ambil buku novel koleksi dari atas meja.
Aku baringkan lagi tubuhku di
atas kasur, dan ku buka lembar demi lembar novel tersebut.
Aku memanglah tidak
kuliah. Penyebabnya bukan karena sakit, atau tidak ada mata kuliah.
Melainkan aku sedang malas ke kampus. Kejemuhan mulai merambah di dalam
batinku dengan dunia perkuliahan.
Aku coba mencari penopang semangat di
kelas dan di bidang akademik. Tapi sampai saat ini, aku belum menemukan cara
yang akurat.
Aku begitu khusuk dalam bacaan novel yang ku pegang , dan
sekonyong-konyong timbul inspirasi dalam otakku.
"Sepertinya cara dalam novel
ini sangat tepat untuk aku lakukan."
Senyumanku penuh dengan percaya diri dan ku tutup lembaran novelnya. Guling ku peluk, angan-angan dan hayalan mulai berjamur. Aku sesaat tertidur membawa mimpi dari harapan palsu.
Keesokkannya aku kembali ke kampus. Dosen sedang
menerangkan materi presentasi yang dibawakan oleh teman-temanku.
Teman-temanku semuanya begitu fokus mendengar penjelasan dan paparan
dosen. Sementara aku pura-pura mencoret pena di lembar kertas bimbelku. Tak ku sengaja, tergambar sketsa wajah
seorang gadis di lembaran kertasku itu.
"Wah, dasar homosepies.
Ini kenapa
malah tertuang di dalam sini?
Apakah aku sudah begitu kronisnya jatuh cinta?
Hmmm. Kayaknya harus aku nyatakan perasaan ini."
Selesai proses perkuliahan, orang-orang mulai bubar dari dalam kelas. Aku beranjak dari kursi dan menghampiri Murti yang sedang menyampirkan tas di
bahu, sembari berjalan keluar kelas.
"Murti. Sehabis ini kamu mau ke mana?
Apakah kamu tidak sibuk hari ini?"
Ucapku dengan nada yang sambil lalu.
"Ada apa Fan?
Aku tidak ada kesibukan kok hari ini.
Palingan langsung
pulang ke rumah, atau mampir di jurusan Sendratasik.
Soalnya ada pertunjukan
seni teater yang aku suka."
Jawabnya seraya membuka pintu kelas yang
terbuat dari lapisan kaca tebal.
"Oh. Apakah aku bisa minta waktumu
sebentar?"
Tanyaku kembali.
"Hmmm. boleh saja.
Ada apakah gerangan?
Apakah aku akan diteraktir makan siyomai lagi?"
Pungkasnya sambil tertawa
kecil.
"Ah, tidak.
Aku sedang krisis moneter bulan ini.
Honorku dari
penilitian kemarin belum cair.
Jadi, aku mungkin hanya traktir kamu es cream.
Soalnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Ucapku dengan raut wajah yang tersipu.
"Wah, seruh tuh kayaknya.
Boleh deh. Hitung-hitung makan es cream gratis."
Kami berdua berjalan dari depan kelas , menuju ke kantin
belakang, atau sekumpulan Mahasiswa menjulukinya Kabel.
Setelah sampai di
kantin yang kami tuju. Dia langsung memesan es Cream kesukaannya, tanpa
bertanya-tanya dulu berapa isi kantongku.
"Waduh, kampret ini anak.
Dia
pikir aku banyak duit kali ya?
Mana duitku tinggal 20.000 lagi."
Ku cetuskan gerutuan dalam hati. Namun di sisi lain, aku menyadari. Mungkin karena
sifatnya seperti inilah yang membuat aku makin akrap dengannya.
Kami duduk berhadapan di satu meja kantin , yang dinaungi pohon
jambu air yang sedang berbuah lebat.
Aku perlahan-lahan membuka
pembicaraan , sambil mataku tak lepas dari pandangan ke
matanya:
"Murti. Kamu canttik hari ini."
"Hmmm. gombal kamu itu.
Ya, jelaslah aku
cantik.
Masa aku harus ganteng?
Kan tidak logis namanya.
Atau mungkin kamu mau
praktekkan teori yang diterangkan dosen tadi?"
Jawabnya sembari menggigit
coklat yang ada di ujung es cream.
Aku hanya tersenyum untuk
menutupi kegugupanku melihat sepasang bibirnya yang merah tanpa polesan
lipstick. Setelah diam beberapa saat, dia menanyakan prihal ajakkanku untuk
ngobrol dengannya:
“Eh, apakah aku diajak ke sini hanya untuk duduk, makan es
cream dan berdiam diri seperti ini?”
“Hussss, jangan berburuk sangkah dulu.
Aku ajak kamu karena ada yang mau aku bicarakan.”
Tukasku dengan
setengah menggumam dalam hati:
“Ini anak harus dihadapi dengan cara bagai
mana ya?
Apakah dia tidak tahu kalau aku hampir mampus risau?”
Akupun mencoba dengan cara
mengajak dia ngobrol ke sana ke mari mencari alasan, yaaa, seperti lirik lagu
Ayu Tingting. Tapi tak mengapalah. Dengan cara seperti itu, obrolan kami
semakin mencair.
Aku begitu cermatnya mengarahkan pembicaraan kepada topik yang ku mau. Namun sial, ada seorang temanku dari jurusan Pendidikan Kimia yang
sedang lewat di depan kanting tersebut, dan ia menegurku.
Alhasil,
pembicaraanku terputus dengan Murti. Setelah berlalunya temanku , aku semakin dekdekan. Karena aku sudah tak tahan ingin
mengatakan sesuatu yang ku pendam itu kepadanya.
Namun semua predikatku sebagai mahasiswa yang kaya akan kosa kata di dalam
kelas, seketika hilang dalam kegugupan dan kedunguan yang tak dimengerti.
Akhirnya setelah menarik nafas dalam-dalam, akupun mulai mengutarakan maksudku
kepadanya:
“Murti. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu secara khusus.
Aku tak tahu, apakah yang akan aku sampaikan ini membuatmu marah dan menjauhiku
atau tidak.
Kendati demikian, aku harus berkata jujur, terutama jujur kepada
diriku sendiri.”
Sejenak aku hentikan kata-kataku untuk melihat reaksinya. Namun
dia hanya diam, dan kelihatannya sangat mendengar ucapanku dengan hikmat.
Aku
kembali melanjutkan tuturanku sembari menatap sepasang bolah matanya yang
laksana kerlap-kerlip bintang timur:
“Murti, aku sayang dan cinta kepadamu.
Perasaan ini kepadamu bukan sebagai teman atau sahabat, tetapi aku ingin kamu
menjadi sisihan hidupku dunia dan akhirat.
Aku sangat berharap, kamu menerimaku
sebagai imammu, yang dapat menuntunmu, dan menjadi sandaran hidupmu
selama-lamanya.
Apakah kamu bersedia untuk itu?”
Dia hanya diam, dan menatap mataku tanpa sedikitpun reaksi
dengan ungkapanku itu. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati mirip pemain filem
sinetron ulung. Setelah diam beberapa saat, aku melihat senyyum yang tak
pernnah aku dapatkan dari raut wajah yang mungil itu.
Dia tersenyum dengan
senyuman yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata pujangga manapun, sembari
berkata:
“Fan, atas dasar apa kamu bisa mempunyai perasaan seperti itu
kepadaku?”
“Aku pun tak mengerti.
Aku hanya merasa, perasaan ini tidak
bisa tertanggungkan lagi, dan perasaan ini tidak beralasan.
Aku hanya bisa
merasakan bahwa, aku mencintai dirimu tanpa alasan apapun.”
Tuturku seraya
menggenggam tangannya yang saat itu terletak di atas meja depanku. Dia
seketika tertawa kecil dan berucap:
“Fan, kamu itu lucu deh.
Kalau kamu tidak
bisa mengerti, mengapa kamu bisa mengungkapkannya?
Hmmm, tapi. Aku… tidak… bisa
membohongi diriku sendiri juga.
Aku sebetulnya, punya rasa yang sama dengan
dirimu.
Semenjak kita ketemu pertama saat Ospek, disaat kamu
menolongku ketika terkena hukuman dari GDK.
Aku mulai punya perhatian khusus
kepadamu.
Namun, aku sempat berpikir. Kamu itu tidak akan mungkin bisa
memperhatikanku.
Karena kamu seorang mahasiswa kutu buku, dan aktifis
organisasi.”
Aku terdiam mendengar kenyataan yang diungkapkannya itu. Aku
merasa alam semesta ini sangat indah, berwarna, dan segala pujian tercurah di
dalam hatiku.
Akhirnya curahan batin yang berlumur cintaku itu
dapat terbalas, dan aku segera mengajaknya untuk berlalu dari sana.
Kami berdua berjalan, dan aku genggam
jemarinnya. Kami berjalan melewati gedung dekan, dan membelok ke arah gerbang
kampus.
Kebetulan hari itu aku tidak membawa sepedaku. Kami berdua menghentikan
angkot di depan gerbang kampus.
Aku ingin mengantarnya sampai ke rumahnya,
dia tidak mau. Dia memikirkan ongkos yang harus aku keluarkan terlalu banyak
saat mengantarnya, kemudian aku harus pulang.
Setelah dia masuk kedalam angkot
yang menuju ke arah rumahnya, aku menatapnya dari pinggir jalan.
Dia melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum, dan mengedip mata
kanannya. Aku segera berbalik dan berjalan menuju terminal untuk mencari angkot yang menuju ke arah rumah pamanku.
Ku ayunkan
kakiku di atas jalanan beraspal yang kemilau tertimpa teriknya matahari, sambil
bersiul-siul dengan lagu dari band Wali:
“Aku tak akan berhenti… Menemani dan
menyayanyimu… Hingga matahari, tak
terbit lagi….”
Demikianlah situasi
kasmaranku di hari itu. Aku tersenyum kepada penjual siyomai, penjual
dawet, sopir angkot, tiang listrik, pohon jambu, tong sampah, dan segala hal
yang aku temui dalam perjalanan pulang.
Alhasil, sesampainya
di rumah pamanku, aku dipandang kayak orang yang memiliki kelainan. Paman mengajak aku untuk makan bersamanya.
Kebetulan ia membeli makanan siap saji,
seusai beliau pulang sekolah. Sembari makan, pamanku mengajakku untuk bercerita mengenai
masa ia muda, dan masa-masa ia kuliah dulu.
“Paman di masa mudah dulu, senang bangat sama hal-hal yang
berbauh diskusi dan aksi-aksi Mahasiswa yang turun ke jalan.
Sampai-sampai, di
bidang akademik paman mempunyai nilai yang buruk.
Namun lambat laun, paman
meninggalkan kesenangan paman tersebut karena seorang perempuan.”
Tuturnya sembari menyuapi mulutnya dengan makanan. Aku hanya diam dan mendengarkan
cerita beliau.
“Paman hari ini melihat,
kamu sepertinya sedang kasmaran.
Paman hanya bisa memberikan saran kepadamu.
Kalaulah kamu sedang taksir sama seorang gadis, ungkapkan saja.
Namun jika kamu
sedang menjalin suatu hubungan istimewah dengan seorang gadis, kamu harus
perhatikan juga kuliah dan tujuan kamu berkuliah.
Jangan sampai, dengan kamu
berpacaran , bisa membuat kamu menjadi mahasiswa abadi.”
Ucapnya kembali.
“Iya
paman.
Aku sedang menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang sekelas denganku.”
Kataku sambil menuangkan air ke dalam gelas kami.
“Terus,
bagaimana dengan rencana penyusunan skripsimu, dan penelitianmu?”
Tanya beliau.
“Aku belum menyusun skripsi.
Tapi penilitian aku kemarin sudah
selesai.
Aku masi tunggu konfirmasi dari dosen pembimbing skripsiku.
Beliau
saat ini sedang di luar kota.
Mungkin minggu depan, baru aku temui beliau untuk membimbingku dalam penyusunan skripsi.”
Jawabku sambil menyeka mulutku dengan tisyu.
“Ya sudah. Paman sebentar sore mau ke resepsi pernikahan anak
teman paman. Kamu kalau mau keluar, jangan
lupa kunci pintunya.”
Ucap pamanku sembari berdiri dari kursinya.
Mulai dari hari itu, aku ukir sebuah cerita yang penu dengan
taburan bunga-bunga cinta yang bermekaran.
Seusai ujian skripsiku, aku melamar pekerjaan di salah satu SMP negeri. Hubunganku dengan Murti semakin serius untuk berlanjut ke
jenjang pernikahan.
Satu tahun sudah aku berprofesi sebagai seorang guru honorer.
Aku semakin mencintai profesiku itu. Karena bagiku, tugas seorang guru adalah
tugas yang paling mulia.
Ya meskipun, gaji seorang guru honor itu tidak
seberapa. Paling cukup untuk laki-laki sepertiku yang belum menjalankan tanggung jawab sebagai kepala rumahtangga.
Siang itu mentari terik seakan membakar bumi. Aku duduk terkantuk-kantuk
di dalam angkot. Aku ada janji ketemuan dengan Murti di taman kota.
Setelah sampai di tempat yang aku tuju, aku bergegas
masuk ke dalam halaman taman itu.
Sekumpulan muda mudi yang sedang duduk di
bangku taman dekat pintu masuk , memandangku dengan keheranan.
Ternyata
mereka anak-anak muritku di sekolah, yang sudah kelas 9.
Mereka ternyata sedang
merayakan ulantahun salah satu temannya.
Ada satu orang dari mereka yang menghampiriku sambil berucap:
“Assalamualaikum bapak.
Apa kabar pak?”
“Waalaikumsalam. Kabar baik.”
jawabku seraya menyambut tangannya yang
disodorkan untuk bersalaman.
“Bapak ke sini, sendirian?”
Tanya
muritku itu yang bernama Doni.
“Ah, bapak mau ketemu sama teman.”
Ucapku
sambil mataku melirik mencari keberadaan Murti.
“Oh, ya sudah
pak.
Saya juga mau balik.”
Kata Doni.
“Loh, kok kamu pulang?
Teman-teman
kamu itu kan, masih di situ.
Kenapa kamu pulang?”
Tanyaku sambil membetulkan ikatan tali sepatu.
“Sudah selesai acara
kami pak.
Kami hanya berkumpul, dan memberikan kado ke Dewi yang berulantahun.”
Pungkas Doni.
“Ya sudah. kamu hati-hati di jalan.”
Ujarku.
“Iya pak. Saya
peremisi dulu.
Assalamualaikum.”
katanya sembari menyalami tanganku.
“Waalaikumsalam.”
Jawabku.
Aku memasuki area taman lebih dalam. Akhirnya, apa yang aku cari-cari,
ternyata dia sudah menungguku di bawah pohon bunga flamboyant. Dia duduk di
atas rerumputan yang lembut.
Aku segera menghampirinya
seraya mengucapkan salam, dan meminta maaf kalau aku datangnya terlambat.
“Apakah kamu sudah lama menunggu di sini?”
Ucapku sambil
duduk di sampingnya.
“Belum lama kok.”
Jawab Murti.
“Kamu sangat cantik hari
ini.
Bunga-bunga yang bermekaran, kupu-kupu yang berterbangan itu pasti iri sama kamu.”
Kataku dengan tersenyum semanis mungkin.
“Hus. Kamu tidak
bosan-bosannya menggombal dan merayu ya.
Jangan-jangan, ke semua perempuan
kamu gombalin.”
Tukasnya dengan mencubit lenganku.
Hari itu aku bercengkrama dengan wanita yang sangat ku
cintai dan sayangi setiap saat. Aku menyampaikan keinginanku untuk
melamarnya. Dia pun mengharapkan hal yang sama.
Memang hubungan kami selama ini orangtuanya tidak pernah tahu. Orangtuanya pernah menanyakan tentang
kedekatan kami. Tapi kami berdua bilang, kami hanya berteman.
Setelah
kami berdua menentukan hari dimana aku harus datang menemui orangtuanya , untuk mengatakan keinginan kami. Nanti setela itu baru aku
mempertemukan orangtua kami masing-masing.
Tanggal 5 mei, tepatnya di hari jumat. Setelah shalat
jumat, aku berkunjung ke rumah Murti.
Sesampainya aku di sana,
kebetulan orangtuanya sedang ada di rumah. Ibunya yang membuka pintu untukku dan menjawab salamku.
Setelah basa-basi dengan ibunya,
aku menanyakan Murti. Ibunya bilang Murti ada di kamar.
Ibu Murti belum
begitu tua. Umurnya sekitar 40 tahun lebih.
Ketika mataku melirik ke arah pintu
yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Tiba-tiba muncul
bapak Murti dan berjalan ke arah kami.
Aku berdiri
dan menyalami tangan beliau. Ia menanyakan kabarku, dan akupun menanyakan kabar
beliau.
Setelah ia duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut, aku kembali
duduk di tempatku.
“Nak Ifan, ibu dan bapak ingin bercakap-cakap sebentar dengan
kamu.”
Ucap ibunya Murti dengan raut wajah yang serius.
Aku jadi gugup, dan keringat dingin
mulai berembun di keningku.
“Semalam Murti telah menyampaikan prihal hubungan kalian
berdua.
Kami sebagai orangtua dari Murti, harus mengetahui sosok laki-laki yang
akan menjadi imam untuk anak kami.
Kami berharap dia adalah orang yang pantas. Pantas yang
kami maksud, pantas dunia dan akhirat.
Nak Ifan, selama ini bapak dan ibu
mengamati, nak Ifan belum pantas untuk itu.”
Tuturnya dengan senyum tipis terbayang di balik kelopak matanya. Aku tak tahu lagi, apa
yang harus aku katakan.
Aku seketika diam dan menundukan kepalaku. Pembicaraan
selanjutnya aku hanya:
"Iya...
maaf...
mengerti ..."
Hanya itu yang dapat aku
ucapkan.
Selesai pembicaraan kami di
siang itu, aku pun berlalu dari rumah yang telah meruntuhkan semua harapan
seorang perantauan sepertiku.
Jalan yang aku tapaki itu, buram dan penuh bayang-bayang raut wajah orangtua Murti.
Jalan umum yang sangat ramai , aku sebbrangi tanpa melihat kekanan dan kekiri. Sehingga ada pengemudi trek yang
berteriak memakiku.
Aku pun tak perduli dengan semua itu. Harapanku secepatnya aku tiba di rumah paman. Aku ingin segera membaringkan tubuhku di
atas kasur, atau memasukan kepalaku kedalam kulkas.
Hari itu juga aku memutuskan
untuk tidak menghubungi Murti lagi.
Karena menurutku, untuk apa aku meneruskan kami jika
orangtuanya tidak merestui.
Sumpah serapa tertuang bersama
teriknya matahari siang itu. Aku mengutuk semua orangtua yang selalu memandang
materi ataupun hal-hal yang tidak berfaeda dalam menentukan pasangan anaknya.
Apakah sampai dunia kiamat, orangtua masih selalu mencampuri urusan hubungan
dan pencarian pasangan untuk anak-anak mereka? Terkutuk mereka yang punya pemikiran seperti itu.
Kakiku terus berjalan melewati rumah-rumah dan pertokoan yang terjajar di pinggir jalan. Saat aku melewati penjual buku langgananku, penjualnya
menegurku dengan ceria:
“Hei, bung.
Sudah lama anda tidak menongolkan diri di tempat
ini.
Apakah anda sudah lupa ara ke tempat ini?”
“Tidak.”
Hanya itu yang dapat aku katakan.
Dia melihat mukaku, dan dia termangu-mangu sembari berucap :
“Sepertinya
anda sedang mempunyai masalah.”
“Alah,
soktahu kamu.
Sudahlah Joni. Kamu ini berkata-kata makin kacau saja.
Malah pakai kata anda, bung dan hantu-hantu apalah itu.
Kamu anggap aku ini macam orang lain saja “
Tukasku sembari duduk di bangku sampingnya. Dia menawarkan
rokok kepadaku, dan aku terpaksa mengambil sebatang, dan menyulutnya.
Padahal aku bukan seorang perokok. Namun entah
mengapa, siang itu aku ingin mencoba benda tersebut.
Awalnya aku
terbatuk-batuk, saat menghirup asapnya ke dalam paru-paru. Joni menertawakanku,
dan mengolokku bahwa aku tidak perna merokok.
Setelah aku memili-mili buku
yang ingin aku baca, aku segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Hujan baru saja turun mengguyur seisi bumi. Pohon-pohon dan
rerumputan masih terlihat basah.
Langit begitu bersih, awan-awan tipis hanyut
terbawa angin yang berhembus, segaris pelangi turut menghiasi suasana saat itu.
Aku ayunkan pedal sepedaku perlahan-lahan menyusuri jalan pinggiran kota.
Tas hitam yang berat di punggungku pun tak ku hiraukan.
Hari itu genap sudah sebulan aku tidak menghubungi ataupun
menemui Murti. Baru kemarin aku menerima kabar dari temanku yang
sekelas juga dulu semasa kuliah. Dia mengatakan bahwa Murti sudah menikah, dan dia kira Murti menikah denganku.
Ternyata Murti menikah dengan seorang lelaki
pengusaha muda,yang kaya, dan dulunya adalah seorang santri pondok
terbesar di kota.
Aku mendengar kabar itu, memang hatiku hancur dan jiwaku serasa tak punya gairah hidup.
Namun kesadaran mengajarkanku
untuk ikhlas dan sabar menghadapi semua itu. Memanglah harus demikian kita jalani hidup ini.
Allah sudah menggariskan semua jalan hidup
manusia, mahluk hidup dan semesta yang diciptakan-Nya. Harapan dan impian yang
dipunyai manusia itu hanyalah untuk berihtiar disetiap tarikan nafasnya.
Baru hari itu aku sempat jalan-jalan dan menikmati alam
lagi. Semenjak aku pulang dari rumah Murti waktu itu, aku hanya
bolak-balik dari sekolah tempat pengapdianku dan rumah paman.
Dalam perjalanan itu tanpa aku sadari, aku
sampai di tempat yang selama beberapa tahun terlupakan olehku.
Sebatang pohon kelapa, dan pohon cemara itu masih ada di tempat tersebut.
Rumput-rumput liar tumbuh berserakan, dan yang paling menyamankan diriku adalah
sebuah saung di antara pohon kelapa dan pohon cemara itu.
Aku parkirkan
sepeda dank ku hampiri tempat yang tak asing lagi bagiku.
Di depan saung , aku layangkan pandanganku sejauh-jauhnya, dank u hirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru.
Sejauh
pandanganku alam kecil ini sangat indah di pandang mata. Sejajar dengan depan
saung ada kali kecil yang mengalirkan air bersih bening.
Di sebelah kali, ada sawah yang baru saja di panen hasilnya. Selain itu ada sebuah telaga
di belakang saung ini juga.
Aku mengambil sebatang sapu lidi dari pohon aren dank mulai membersihkan saungnya. Saung ini terbuat dari bambu-bambu untuk
tiangnya, lantainya pun dari bambu yang di belah dan atapnya terbuat
dari anyaman daun ijuk.
Setelah aku baringkan tubuh dengan sedikit bersandar pada
tiang penyangga saung , dank u ambil buku bersama pena dari dalam tas.
Tanpa aku sengaja, buku dan pena yang aku ambil adalah alat tulis yang sama semasa kuliah dulu.
Dalam buku ada catatan terakhirku
waktu aku berkunjung ke tempat ini. Pena di tangan kananku, dank aku buka lembaran buku itu.
Aku seketika tersadar, bahwa selama ini aku
sudah tertidur dalam kemunafikan yang membutakan. Dalam salah satu lembaran
kertas , aku menemukan coretan tanganku dulu yang menjadi suatu
kalimat:
“Kau adalah kau, dan bukan siapa-siapa.”
Aku semakin sadar atas
diriku. Sudah berapa lama aku biarkan diriku tenggelam dan hanyut dalam arus
fatamorgana.
Sesungguhnya aku adalah, manusia yang sendiri dan bukan
sekumpulan akar serabut pada pohon kelapa .
Dalam buku itu, aku dapatkan semua
jawaban atas kegundaanku dan sebetulnya tulisan itu hanya coretanku dahulu.
Aku sadar bahwa, hidup itu hanya permainan, dan pergulatan panjang
dalam mendekap waktu.
“Ya Allah. Terimakasih atas nikmat yang Engkau berikan
kepadaku hari ini.”
Kata-kata tersebut terucapkan olehku dengan hati yang sangat
lapang dan sejuta rasa yang tak bisa diuraikan.
“Hei, buku dan kau penaku.
Maafkan aku ya.
Selama ini aku telah melupakan kalian berdua.
Memang hanya
kalian yang terbaik dari seisi tasku.”
Aku menciumi buku dan penaku itu. Aku
tahu, mereka tidak bisa menjadikan mereka yang terbaik. Akan tetapi, diriku
dan alam di sekitarku itulah yang menjadikan mereka sangat berharga bagiku.
Senja yang sama, kemudian alat tulis yang sama pula. Namun
masanya yang membedakan semua itu. Aku kembali bercengkrama dengan alam,
waktu, dan alat-alat tulis dalam alam yang aku ciptakan di balik realita
hidup.
Semoga hari-hari yang akan datang membawa realita yang
pantas untukku. Saat ini hidupku masih terus bergulir dalam alam kecil itu, dan
entah sampai kapan akan berakhir.
Biarlah waktu yang menjawab semua itu, tanpa
usikan dari jemariku yang menggurat terkaan. Semua biarkan berlalu dan menghilang dalam edaran takdir fana.
Serang Banten: (2019, Inspirasi secangkir kopi dan amunisi
yang menjadi pelarian).
Keren
BalasHapusTerima kasih bu. Tulisan dari zaman batu karang itu.
Hapus