Karya Pujangga Dekil Terkadang kita harus membenci, apa yang tidak harus dibenci. Dan terkadang kita harus memeluk, disaat raga ini tak ingin memeluk. Malam kian larut, hujan juga tak urung reda. Kevin masih terpaku tatapannya ke arah kepergian Yuli. Raganya menggigil kedinginan. Tapi, hatinya lebih dingin lagi. Setelah mendengar ucapan Yuli. Kalau hubungan mereka sampai di sini saja. Dengan alasan, orang tuanya tidak setuju, Yuli bergaul dengannya. Kevin berbalik badan, dan berlalu dari tempat tersebut. Tercetus gumamannya, bersama guntur dan petir: "Bah. Cuman tagal gue anak pengangguran, dan dia anak pejabat. Seenaknya dia permainkan hati gue. Apakah, cinta itu membutuhkan persamaan material? Ataukah tidak sama sekali?" Di rumahnya, Vino sedang uring-uringan. Berkali-kali ia menelpon Kevin. Tapi, ponselnya tak bisa dihubungi. "Ah. Monyet kurap; kerbau dungu. Ke mana saja sih? Gak tahu, apa purapura enggak tahu dia. Sudah buat janji, malah di ingkari pula....