Karya Pujangga Dekil
Terkadang kita harus membenci, apa yang tidak harus dibenci. Dan terkadang kita harus memeluk, disaat raga ini tak ingin memeluk.
Malam kian larut, hujan juga tak urung reda. Kevin masih terpaku tatapannya ke arah kepergian Yuli. Raganya menggigil kedinginan. Tapi, hatinya lebih dingin lagi. Setelah mendengar ucapan Yuli. Kalau hubungan mereka sampai di sini saja. Dengan alasan, orang tuanya tidak setuju, Yuli bergaul dengannya. Kevin berbalik badan, dan berlalu dari tempat tersebut.
Tercetus gumamannya, bersama guntur dan petir: "Bah. Cuman tagal gue anak pengangguran, dan dia anak pejabat. Seenaknya dia permainkan hati gue. Apakah, cinta itu membutuhkan persamaan material? Ataukah tidak sama sekali?"
Di rumahnya, Vino sedang uring-uringan. Berkali-kali ia menelpon Kevin. Tapi, ponselnya tak bisa dihubungi. "Ah. Monyet kurap; kerbau dungu. Ke mana saja sih? Gak tahu, apa purapura enggak tahu dia. Sudah buat janji, malah di ingkari pula." Sekonyong-konyong ponselnya berdering. "Halo? Dengan siapa? Dan mau perlu apa?" Berujar Vino, sembari mengankat telpon. Tanpa melihat siapa yang menelpon. "Yeelah! Anjai lu man. Ini gue Kevin." Jawab Kevin. "Oh. Dari mana aja lu? Ditelepon gak bisa, di sms gak dibalas. Apasih mau mu?" "Ckckck. Kayak lirik lagu saja kata-kata lu. Jadi baru beberapa jam gue tinggalin. Lu udah jadi penyanyi yaaa."
Tukas Kevin. "Ya. Gue jadi penyanyi, Empat jam, di kafe yang lu ajak ketemu." Jawab Vino, dengan nada kesal. "Sorry brother! Gue gak sengaja ingkar janji. Tapi, pas gue udah dekat kafe itu, gue ditelepon Yuli. Ajak ketemuan. Makanya, gue lupa kabarin lu." 'Ngapain lu masih mau jumpai cewek brengsek itu? Bukankah udah gue bilang. Dia itu hanya mempermainkan lu." Tukas Vino ke Kevin.
"Gue enggak nyangka dia setega itu man. Setelah gue mati-matian dapatkan dia, gue hanya dicampakan bagaikan sampah." Berujar Kevin. "Terus, lu ada di mana sekarang?" Tanya Vino. "Gue gak tahu. Udah di mana guwe ini. Mungkin jalan menuju syurga." Jawab Kevin, dengan nada kelakarnya. Vino hanya tertawa mendengarnya. "Heh. Monyet. Lu pulang ajalah! Jangan sampai emak lu gak bisa tidur. Mikirin elu yang masih kelayapan di jalanan." "Y elah! Lu macam emak tukang jual sayur di pasar. Gue udah di kamar gue kaliii." Jawab Kevin ke Vino. "Ya udah. Gue mau tidur dulu. Nanti kita lanjut esok saja, di sekolah." Ucap vino.
***
Kevin di hari ini, paling keren menurutnya. Karena, hari ini dia akan menjadi play boy cap monyet di sekolahnya. Sedangkan Vino: dia juga tak mau ketinggalan menjadi cowok play boy. Menurut mereka: inilah saatnya mereka bangkit; membalas apa yang telah mereka rasakan. Sudah selalu mereka dipermainkan perempuan. Kini saatnya merekalah yang akan mempermainkan perempuan.
Hari itu, Kevin berhasil mendekati tiga perempuan. Sedangkan Vino, hanya dapat mendekati dua orang perempuan saja. Berhari-hari, mereka melakukan pendekatan.
Berkata Kevin ke Vino, pada hari jumat, selesai main foot ball. Katanya: "Mendekati para wanita itu, harus secermat-cermatnya. Jangan sampai mereka tahu planing Nuklir kita."
Malam minggu telah tiba. Jika malam jumat adalah malamnya para hantu gentayangan, maka malam minggu adalah malamnya para anak muda yang kasmaran.
Desi, Vira, dan Rani. Adalah gebetannya Kevin. Sedangkan: Tari dan Vika adalah targetnya Vino. Mereka ajak ketemuan sama cewek-cewek itu di pasar malam. Tetapi dengan tempat yang berbeda. Dan dengan akal racikan mereka berdua, berusaha untuk tidak ketahuan. Mereka menemui yang satu, dan berlalu sejenak untuk menemui yang lainnya. Dengan alasan yang ada-ada saja.
Memang agak konyol tingkahlaku dua pemuda tersebut. Tetapi resiko gagal cukup besar. Akhirnya mereka berhasil menjerat mangsa mereka itu, ke jalah yang telah mereka buat. Dan mereka berdua hanya tinggal tunggu waktu saja, untuk mengeksekusi para wanita yang sadisme, menurut mereka.
***
Setelah beberapa bulan telah berlalu. Kevin dan Vino, selalu berpura-pura di depan cewek mainan mereka. Pada suatu hari, Kevin terlihat sedang menunggu sahabatnya di depan gerbang sekolah. Vino datang sambil berlari, membawa tas ransel milik Kevin.
"Eeh! Gila lu jon. Pak Akmal nyariin lu di kelas. Katanya; lu udah sepulu kali gak ikut mata-pelajarannya." Kata Vino, dengan nafas ngos-ngosan. "Alaaah! Bodoh amat. Gue mau ikut kek, enggak kek. Ngapain dia repotin cariin gue siih. Gue udah males, dengarin hotbah dia tentang liberalisme itu. Dia pikir, kita ini masih hidup primitif gitu." Jawab Kevin sembari berjalan ke arah motornya. "Ah. Sebenarnya, gue juga tadi udah nyari alasan biar kabur aja. Tapi gue gak diijinin man. Malah gue dijadikan contoh objeknya. Katanya, inilah anak modern, yang tak patut dicontohin." Tutur Vino, sambil mengiringi langkah Kevin.
Mereka menghidupkan mesin motornya masing-masing, dan ngebutlah mereka di atas jalanan beraspal. Mereka mampir sejenak, di salasatu mall di kota itu. Soalnya, Kevin mau lihat komik terbaru kesukaannya. Setelah membeli komik, dan Vino juga membeli buku porno koleksinya, mereka kembali ngebut di jalanan untuk balik ke rumahnya masing-masing.
Dering ponsel dengan lagu Avenget sevenvul itu, mengagetkan Kevin dari tidurnya. Kevin mengambil ponsel, dan menerima telponnya.
"Halo?" Ucap Kevin dengan suarah serak. "Halo sayang. Baru bangun tidur ya?" Terdengar suara perempuan di ujung telepon itu, yang ternyata dia salah satu pacar Keven yang bernama Desi. "Iya sayang." Jawab Kevin sambil mengucek-ngucek matanya. "Ih. Mandi dulu sana! Udah sore nih. Kan mau jalan nanti malam." Berujar Desi, dengan suarah manjanya. "Iya deh. Aku mandi Dulu ya sayang." Jawab Kevin Kembali. "Ya udah. Nanti jemput ya sayang. Dadaaa. Love you hany." "Love you to." Tukas Kevin sambil mengkecup ponselnya. Desi di ujung telepon hanya tersenyum dan membayangkan wajah Kevin. Setelah mematikan telpon. Kevin bergegas bangkit dari kasur, dan menuju kamar-mandi.
Di tempat lain, Vino sedang telponan sama Tari. Mereka juga punya planing nonton vilem di biyoskop.
***
Kevin sedang memeluk Desi di bangku tamman. Sekonyong-konyong, ada serauk wajah yang bringas mengagetkan Kevin. Rani berkata ke Kevin, dengan nada amarah yang tak bisa diajak konfromi. "Ternyata seperti ini, cinta kamu ya. Bilang lagi sakit kepala. Ternyata, lagi ketemuan, dan berpelukan sama cewek lain. Mulai sekarang, kita putus! Dan aku gak mau kenal sama kamu lagi." Rani langsung pergi dari situ. Tanpa menoleh lagi ke belakang. Hatinya remuk redam mempergoki pacarnya itu dengan perempuan lain bermesraan di depannya. Dia sebenarnya ada di tempat itu karena diajak sama sodaranya, tapi tamasya yang penuh canda tawa bersama sodara-sodaranya itu berujung dengan melihat tragedi yang menyakitkan hatinya.
"Siapa itu? Ternyata, diam-diam kamu duain aku ya." Tanya Desi ke Kevin, sambil melepas pelukan Kevin. "Aku gak tahu siapa dia sayang. Mungkin dia salah orang. Sungguh sayang. Cintaku hanya untuk kamu. Gak ada kedua, maupun lainnya. Hanya kamulah, pemilik relung hatiku." Berkata Kevin, dengan mencoba memeluk Desi dengan erat. "Sungguh? Apa yang kamu katakan ini? Kamu gak bohongin aku?" Tanya Desi sembari menjauhi pipinya dari ciuman Kevin. "Berani sumpah deh. Aku hanya mencintai kamu seorang." Tukas Kevin. "Sudahlah. Aku mau pulang. Kali ini, aku coba mempercayai apa katamu. Tapi, kalau ketahuan kamu hanya mempermainkan aku... Aku tak akan memaafkanmu lagi."
Di biyoskop, vilem ada apa dengan cinta, baru saja ditayangkan. Tari langsung mengajak Vino untuk pulang. Selesai mengantar Tari ke rumah, Vino segera balik ke rumahnya. Sesampainya Vino di rumah. Dia langsung menelpon Kevin. Terjadi percakapan seriyus di antara mereka. Vino hanya berkata: "Hah... Uh... Weh..." Sambil membayangkan situasi saat Kevin, dilabrak dan diputusin Rani. Setelah bercerita. Kevin memaki Vino: "Apa lu. Hah, uh, weh, macam sapi abis lari maraton gitu. Lu ngeledek apa menghina gue siih. Teman lagi dapet musibah, bukannya diberikan solusi. Ini malah cengar-cengir macam monyet." 'Ye lah. Gue ini sedang turut berduka citra." Jawab Vino dengan sedikit humor. "Duka cita kali. Bukan pelembap kuliit. Udah dulu ya. Gue mau lanjutin baca komik gue tadi." Berkata Kevin, sambil ketawa kecil. "Ya udah. Gue juga, mau baca cerita panas. Dingin bangat nih man." Ucap Vino. Kevin hanya tertawa dengar kesukaan sahabatnya itu. "Ok man. Jangan lupa. Selesai lu baca, ke kamar-mandi dulu. Untuk bersihinnya. Hahahahaha."ihihihi.' Kata Kevin dengan mengakhiri telponnya.
***
Keesokan hari di sekolah. Bel tanda masuk kelas, baru saja dibunyikan. Kevin dan Vino berjalan menuju ke kelas. Dari koridor itu, Kevin melihat Rani sedang berjalan dengan cowok. Sambil pegangan tangan, dan terlihat, Rani tertawa-tawa bersama cowok itu.
"Gila! Untung aja, gue gak benaran serius sama dia. Gak bisa bayangin, gimana perasaan gue melihat adegan tersebut, jika gue tulus bersama dia." Cetus Kevin ke Vino, yang juga melihat sepasang sejoli itu. "Gak usah dibayangin. Kalau lu gak bisa bayanginnya. Guwe hanya berharap, semoga yang masi ada ini, lu lebih waspada lagi menjaganya. Agar tidak kecolongan lagi." Berkata Vino, sembari berjalan masuk ke kelas.
Setelah belajar, dan saatnya untuk bubar dari kelas. Kevin buru-buru baca sms, yang tadi masuk di ponselnya. "Sayang. Ketemu yuk. Aku tunggu di belakang sekolah." Tulis Vira dalam sms yang dibaca Kevin. Kevin langsung berjalan tanpa menghiraukan panggilan Vino yang mengajaknya ke Kantin. Sementara itu, ponsel Vino juga berdering. Ternyata, ada telpon dari Vika. "Halo... Sayang." Berkata Vino. "Iya sayang. Kamu lagi di mana? Kita ke kantin yuk." Ajak Vika, di ujung telepon dengan nada manja. "Ayuk. Aku juga mau jalan ke kantin nih. Kamu di mana?" Ucap Vino sembari berjalan keluar dari kelas. "Aku masi di kelas. Baru mau ke luar nih. Kamu duluan ke sananya, nanti aku nyusul." Jawab Vira, sambil memasukan bukunya ke laci meja.
Di belakang sekolah, di bawa pohon mangga, terlihat sepasang kekasi yang sedang cengkrama. Sementara itu, Desi berjalan ke kelas Kevin. Berkali-kali ia menelponnya. Tapi ponsel Kevin di luar jangkawan. Di depan kelas yang ditujunya, dia bertanya ke dafit, teman sekelas Kevin. "Hei. kamu lihat Kevin?" "Oh. Kevin tadi berjalan ke arah sana." Jawab dafit, sambil menunjuk ke belakang sekolah. Desi langsung berlalu dari situ, tanpa mengucapkan terima-kasi. Setelah Desi berlalu. Datang lagi seorang perempuan, yang bertanya keberadaannya Vino. Dafit hanya berkata: "Ke sana." Dengan memonyongkan mulutnya ke arah kantin; sambil tetap mengunyah permen karet yang ada dalam mulutnya. Dia geleng-geleng kepalanya, sembari menggumam: "Wah. Ada angin apa ya? Kok nampaknya hari ini, ada gadis-gadis cakep yang nyariin mereka berdua ya. Apakah akan ada adegan panas hari ini? Uh, dasar nasipp orang jomlo. Lihat teman lelaki dicariin gadis jadi keki sendiri. Oh Tuhan, kapan ada gadis yang mau menampal hati yang bolong ini?" Ada seorang anak perempuan yang berjalan dari kelas IPA 2 itu dan lewat di depan Dafit. Dia suwit-suwit sambil berusaha mencari perhatian anak perempuan itu. "Apa lu!? Cengar cengir macam kerbau haaah? Mau gue tampol mulut lu haah?" Ucap perempuan itu sambil melototkan matanya ke Dafit. Setelah itu dia bergegas berlalu dari situ. "Cuh, dasar gadis sialan. Sok jual mahal." Kata Dafit seorang diri sembari meludahkan permen karet dari mulutnya.
***
Desi langsung menampar Kevin. Setibanya dia di belakang sekolah, dan melihat adegan mesra. Antara, Kevin dan Vira. "Aku gak menyangka! Kamu hancurkan kepercayaanku kepadamu. Semalam itu kayaknya, pacar kamu juga kan. Aku benci sama kamu! Kita putus!" Berujar Desi dengan berapi-api. Dia berlari dari tempat terkutuk itu, yang telah menghancurkan hatinya. Dia berlari sambil sesenggukan. Tinggalllah Vira, yang sedang menatap Kevin dengan sejuta tanya.
Di kantin kejadiannya tak jauh beda, dengan yang terjadi di belakang sekolah itu. Tari memutuskan hubungannya dengan Vino. Tanpa banyak kata. Vika berlalu dari sana, dengan diam, dan meneteskan air mata. Vino berlari menyusulnya, tanpa menghiraukan Tari. Setelah sampai di kelasnya yang masi sepi itu, Vika menumpahkan tangisnya. Vino terlihat berlutut di depan Vika, sembari membujuknya. Agar mau mendengar penjelasan Vino.
"Vika. Sungguh. Aku awalnya niat mempermainkan kalian. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku benaran tulus mencintaimu. Aku seperti ini, karena aku selalu dihiyanatin perempuan. Kamu mau maafin aku kan. Aku janji, akan selalu setia bersamamu." "Oh. Jadi hanya kamu sering disakitin perempuan, lalu kamu berbalik menyakitin perempuan. Vino. Tak semua perempuan itu sama." Tukas Vika sambil menepis tangan Vino, yang menghapus air matanya.
Sementara di belakang sekolah, kejadiannya begitu juga. Tetapi, Vira tanpa bertanya apa-apa. Dia hanya mendengar ucapan Kevin, dengan rasa yang tercabik-cabik. "Aku tahu, kamu gak akan memaafkanku. Tapi percayalah! Aku sadar setelah semuanya telah terjadi. Ini memang salah. Tapi cintaku tak salah lagi, setelah aku sadari. Kamu yang menorehkan tinta cinta di dalam kalbuku, yang selalu terpapas." Berkata Kevin sambil menatap mata Vira untuk melihat reaksi perempuan itu. "Aku tahu. Dan aku akan membuktikan kepadamu. Bahwa, tidak seperti yang lainnya, yang telah menyakitimu. Cintaku akan membuka pandanganmu tentang cinta." Ucap Vira dengan tersenyum, dan mencoba mempercayai ucapan Kevin. Dia harus berusaha untuk menindas semua rasa egonya, dan dia ingin laki-laki di depannya ini tidak lagi berperilaku buruk seperti itu. "Jadi, kamu mau memaafkanku, dan tidak membenciku?" Tanya Kevin setelah diam beberapa saat. "Aku juga sadar. Membencimu, tak akan merubah kelakuanmu. Dan asal kamu tahu saja. Aku juga sama sepertimu. Selalu dihiyanati, dan disakiti. Tetapi, aku selalu berfikir positif, sabar,; tanpa mempunyai pemikiran sepertimu itu." Berkata Vira sambil tetap tersenyum. Kevin langsung merai, dan memeluk Vira ke dalam pelukannya tanpa ada kata-kata yang terucap lagi. Mereka berdua sadar, inilah cinta, inilah yang harus mereka pertahankan untuk menciptakan kebahagiaan saat melewati jalanan hidup ini. Vino dan Vika, terlihat tersenyum. Setelah, Vika juga telah memaafkan Vino.
Beberapa tahun telah berlalu meninggalkan masa yang tak akan terlupakan. Kedua sejoli itu, telah menikah, dan masing-masing mempunyai satu bayi lelaki. Kehidupan percintaan mereka semakin harmonis, dengan kehadiran buah hatinya di antara mereka. Ya, walaupun semua berawal dari hal yang sepeleh, tetapi membawa hasil yang besar. Bukankah hasil itu tidak menghianati usaha? Cinta itu memang sebuah hal yang harus diciptakan, namun perasaan yang sejati itu harus ditempah berulang-ulang dengan bara yang panas agar terbentuk secara utuh.
***
Catatan penulis.
Seperti apapun engkau disakiti, dihiyanati, dan didustai dalam percintaan. Tetaplah tegar, sabar, dan tersenyum menghadapinya. Tanamlah dalam jiwamu, nilai-nilai positif, dan mempunyai pemikiran progresif dalam hidupmu. Dan selalu sadar dan mempunyai keyakinan. Bahwa, definisi cinta sejati, akan menghampirimu suatu saat nanti.
Semoga bermanfaat. Amiiin.
Komentar
Posting Komentar