Karya Pujangga Dekil
Alam Gelap
Di iringi bisikan-bisikan kelamnya malam. Aku menggigil dalam kehampaan.
Jari-jariku gemetar mengisahkan. Sungguh begitu sangat mendalam.
Terpuruk, memang aku di balik kekakuan. Membisu, otakku tak mampu memaparkan.
Nasip perjalanan cintaku begitu tragis . Terburai semua isi kalbu.
Rasa mengasihiku tak ada artinya lagi. Batinku sesenggukan dibelenggu jerat rindu.
Tetesan bening di matakupun, tak ada gunanya kini. Oh Tuhan yang menghadirkan kisah cinta!
Akankah cintaku berserakan di pelataran lubuk yang indah? Bila aku adalah viyolin cinta yang buruk. Putuskanlah semua sumber kemerduan cinta itu.
Bila aku laksana buih di atas arus lepas. Hanyutkan dan musnahkanlah keputihan kasisayangku!
Sejuta mimpi, tinggalah dalam keterasingan rindu. Aku tak mempunyai apa-apa untukmu kasih.
Manalah mungkin orang sepertiku sanggup memilikimu selamanya. Jalan hidupku penuh guratan-guratan kelam. Mana bisa aku membawahmu dalam duniaku.
Kini aku sadari. Aku sungguh mengasihimu. Namun, aku tak pantas memiliki seisi rasa dalam nuranimu.
Melalui tulisan yang tak memiliki arti apa-apa ini. Aku berusaha menuangkan tumpangan dari dalam jiwaku.
Aku tidak berharap, dan tak penuh harapan lagi. Biarlah semua mengalir riuh bersama tetesan nanah lukaku.
Aku hanya berharap. Semoga engkau tak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan. Semoga Tuhan mencabut semua kutukannya atas diriku.
Kasih! Di ujung malam yang tersisa ini. Aku terpuruk begitu dalam lembah terjal yang engkau ciptakan.
Kasih! Hanya satu yang perlu engkau tahu. Semua telah terkuras habis untukmu dalam keabadian rasa.
Tak akan ada kisah; setelah kisah bersamamu ini.
Fonislah! Hukumlah diri yang tak bermakna ini! Raga ini sudah dingin dan kaku dibalik kepilluan.
Sudah begitu banyak torehan berwarna bersamamu. Aku tak akan mampu menguraikan semua itu. Aku hanya dapat merasakannya.
Cinta! Inginku mencekammu, dan tak membiarkanmu belalu dari sisiku. Tetapi, apakah mungkin Engkau masih dalam kungkunganku?
Tak akan habis guratan yang ku buat untuk berkisah. Namun jari-jariku tak mampu lagi tetap tegar bercerita.
Berjalanlah duhai penguasa sukmaku! Semoga kita bertemu di ujung senja, di balik cakrawala.
Akan ku buktikan semua rasa dalam diriku, hanya tecurah kepadamu. Karena, aku tetap menjaganya untukmu. Meski mungkin, engkau tak menjaganya untukku.
Alam Gelap
Di iringi bisikan-bisikan kelamnya malam. Aku menggigil dalam kehampaan.
Jari-jariku gemetar mengisahkan. Sungguh begitu sangat mendalam.
Terpuruk, memang aku di balik kekakuan. Membisu, otakku tak mampu memaparkan.
Nasip perjalanan cintaku begitu tragis . Terburai semua isi kalbu.
Rasa mengasihiku tak ada artinya lagi. Batinku sesenggukan dibelenggu jerat rindu.
Tetesan bening di matakupun, tak ada gunanya kini. Oh Tuhan yang menghadirkan kisah cinta!
Akankah cintaku berserakan di pelataran lubuk yang indah? Bila aku adalah viyolin cinta yang buruk. Putuskanlah semua sumber kemerduan cinta itu.
Bila aku laksana buih di atas arus lepas. Hanyutkan dan musnahkanlah keputihan kasisayangku!
Sejuta mimpi, tinggalah dalam keterasingan rindu. Aku tak mempunyai apa-apa untukmu kasih.
Manalah mungkin orang sepertiku sanggup memilikimu selamanya. Jalan hidupku penuh guratan-guratan kelam. Mana bisa aku membawahmu dalam duniaku.
Kini aku sadari. Aku sungguh mengasihimu. Namun, aku tak pantas memiliki seisi rasa dalam nuranimu.
Melalui tulisan yang tak memiliki arti apa-apa ini. Aku berusaha menuangkan tumpangan dari dalam jiwaku.
Aku tidak berharap, dan tak penuh harapan lagi. Biarlah semua mengalir riuh bersama tetesan nanah lukaku.
Aku hanya berharap. Semoga engkau tak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan. Semoga Tuhan mencabut semua kutukannya atas diriku.
Kasih! Di ujung malam yang tersisa ini. Aku terpuruk begitu dalam lembah terjal yang engkau ciptakan.
Kasih! Hanya satu yang perlu engkau tahu. Semua telah terkuras habis untukmu dalam keabadian rasa.
Tak akan ada kisah; setelah kisah bersamamu ini.
Fonislah! Hukumlah diri yang tak bermakna ini! Raga ini sudah dingin dan kaku dibalik kepilluan.
Sudah begitu banyak torehan berwarna bersamamu. Aku tak akan mampu menguraikan semua itu. Aku hanya dapat merasakannya.
Cinta! Inginku mencekammu, dan tak membiarkanmu belalu dari sisiku. Tetapi, apakah mungkin Engkau masih dalam kungkunganku?
Tak akan habis guratan yang ku buat untuk berkisah. Namun jari-jariku tak mampu lagi tetap tegar bercerita.
Berjalanlah duhai penguasa sukmaku! Semoga kita bertemu di ujung senja, di balik cakrawala.
Akan ku buktikan semua rasa dalam diriku, hanya tecurah kepadamu. Karena, aku tetap menjaganya untukmu. Meski mungkin, engkau tak menjaganya untukku.
Komentar
Posting Komentar