Ditulis Oleh :
Siti Julaeha
Nim :
2287180042
Judul Esai : Inovasi Sistem Pengajaran Dengan Intervensi Dini
Inovasi
pendidikan di masa saat ini sudah menjadi suatu keharusan yang dilakukan. Apalagi
dengan kondisi Pandemic Covid-19 yang melanda seluruh penjuru dunia termasuk
Indonesia. Namun Indonesia harus mampu menemukan dan menerapkan inovasi
pendidikan yang sesuai dengan kultur masyarakat dan giografis Bangsa. Dalam hal
ini kita bisa mencoba untuk mengintip sistem pendidikan yang diinovasi dari
Negara lain untuk bisa diterapkan di Indonesia. Negara yang mungkin bisa kita
jadikan acuan dalam inovasi pendidikan seperti Finlandia.
Finlandia
dalam beberapa dekade terakhir mentransformasi sistem pendidikan di negaranya
menjadi yang terbaik diseluruh dunia. Hal tersebut mengacu pada hasil tes yang
diselenggarakan OECD (Organization for Economic Cooperation & Development)
pada tahun 2015 yakni tes PISA (Programme for International Student Assessment)
negara Finlandia ada di jajaran negara teratas dengan kualitas pendidikan
terbaik dilihat dari science, reading , dan mathematics. Pada tes ini Indonesia
berada pada jajaran negara dengan kualitas pendidikan terendah (OECD, 2015).
Perjalanan
panjang sejarah sistem Pendidikan Indonesia telah dibuktikan dengan terjadinya
pergantian kurikulum Pendidikan Nasional. Dalam rentang waktu 71 tahun semenjak
tahun 1947 Indonesia terhitung 10 kali melakukan pergantian. Pergantian ini
tentunya bertujuan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan setiap generasi.Kondisi
Pendidikan seperti ini tentunya menjadi sebuah catatan besar bagi semua elemen
bangsa untuk dapat menemukan formulasi yang tepat dan sesuai karakter anak
bangsa.
Pendidikan
di Finlandia menekankan pada pentingnya diagnosis dan intervensi dini terhadap
kesulitan atau hambatan yang dihadapi murid dalam belajar. Berbeda dengan
kebanyakan negara yang umumnya mendeteksi kesulitan dengan mengadakan evaluasi
yang biasanya hanya mengukur satu komponen (tes kognitif). Finlandia bertindak
dengan cara yang berbeda. Pendidikan di Finlandia percaya bahwa diagnosis atau
deteksi dini dan intervensi dini adalah bagian dari proses belajar mengajar
yang harus dilakukan. Sehingga setiap anak yang mengalami kesulitan dalam
pembelajaran akan dideteksi lebih dini dan disediakan bantuan secara individual
secepatnya untuk menghindari atau menangani masalah tersebut.
Murid
yang memerlukan perhatian khusus akan di bawa ke kelas yang terpisah dan
disediakan rencana pembelajaran secara individual. Dengan cara seperti ini,
pendidikan di Finlandia menjamin bahwa tidak ada murid yang tertinggal dalam
pembelajaran. Tindakan ini mereka lakukan dengan sangat elegan. Di Finlandia
bahkan ada ungkapan yang mengatakan bahwa “murid khusus adalah murid yang
selama pendidikannya belum pernah mendapatkan perhatian khusus”. Hal ini
menandakan bahwa di Finlandia pemberian perhatian khusus terhadap siswa
merupakan hal yang sangat penting. Guru kelas di Finlandia dapat melakukan hal
ini karena jumlah guru yang dapat mencapai tiga orang untuk satu kelas. Selain
itu hanya 4 jam guru mengajar dalam sehari di Finlandia dan ditambah 2 jam
untuk pengembangan diri dalam seminggu.
Dukungan
bagi guru yang menemukan murid yang membutuhkan perhatian khusus disediakan
melalui “tim perkembangan murid” yang ada di setiap sekolah di Finlandia. Tim
perkembangan murid ini terdiri dari guru kelas, psikolog sekolah, konselor
pendidikan, dan kepala sekolah. Tim ini bertemu setiap minggu untuk
membicarakan kasus yang ditemui pada murid seperti kekerasan, kesulitan
belajar, dan perilaku non sosial, sehingga guru tidak merasa sendirian dalam
menangani siswa yang memerlukan perhatian khusus. Setiap kasus dicari solusinya
secara individual.
Sistem
pendidikan ini seharusnya bisa diterapkan di Indonesia baik di sekolah khusus
maupun di sekolah reguler. Namun kenyataannya intervensi dini hanya sering
terdapat di sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus saja untuk mengetahui
hambatan dan potensi yang ada pada peserta didik yang berkebutuhan khusus. Jika
ini adalah inovasi yang bisa dianut oleh negara Indonesia, tentu semua sekolah
dapat menerapkan sistem ini. Selain itu, guru yang memberikan pembelajaran
kepada pesetrta didik baiknya lebih dari satu orang.
Tujuan
dari prinsip ini agar peserta didik dapat diberikan pembelajaran dan
pengembangan potensinya dengan sesuai dan juga bisa secara maksimal. Jam
pembelajaran yang disediakan ataupun sistem kurikulum yang diterapkan di
Indonesia juga bisa diikuti cara dari Finlandia dengan membebaskan setiap
sekolah memiliki kurikulum sendiri, tetapi tetap dalam pengawasan Pemerintah.
Hal ini tentu bisa membuat perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia
bisa dicapai sebagaimana mestinya.
Tantangan
dari sistem ini tentu dari SDM tenaga pendidiknya bila diterapkan di semua
sekolah di Indonesia. Selain itu, tunjangan atau biaya yang dibutuhkan oleh
pendidikan juga tentu lebih besar. Bukan hanya 20% dari APBN saja, mungkin bisa
mencapai 40% dari APBN RI.
Akan
tetapi setiap masalah harus ada solusi. Bila sistem ini diterapkan dengan
meminimalisir kekurangan SDM tenaga pendidik di Indonesia, tentu perguruan
tinggi harus bisa memberikan peluang yang lebih untuk calon pendidik. Selain
itu, saham dan properti Bangsa yang masih tersisa 50% yang dikuasai Asing,
minimal dikembalikan 30% / 40% untuk membantu APBN Negara Indonesia.
Sumber :
Adha, Maulana Amirul; Dkk.
2019. Analisis Komparasi Sistem Pendidikan Indonesia dan Finlandia.
Jurnal Studi Manajemen Pendidikan vol.
3, no. 2.
https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Pionir/article/view/6226.
Komentar
Posting Komentar