SPERMA COVID-19 MENINDAS PEDAGANG KAKI LIMA
Ketertiban
dan kesejahteraan pedagang kaki lima (PKL) hanya sebatas guratan janji Pemerintah
di bibir pantai. Garis janji tersebut hanya ada dikala ombak sedang surut, dan
ketika ombak mulai pasang garis-garis itu akan hilang dalam sekejap mata.
Demikianlah pemangku langit di negeri yang permai ini, yang diberi nama
indonesia.
Semakin
maraknya penyebaran Covid-19 di negeri yang anggun ini, tukang penyapu jalan
masih menyisakan sampah untuk hari esok. Semua ini agar kantongnya yang lusu
itu kembali mengantongkan pundi-pundi rupiah dari sisa sampah tersebut.
Tangisan rakyat hanya terdengar bagaikan bisikan semut di kolong kursi jabatan
yang megah. Betapa mirisnya melihat kenyataan yang kian memerkosai negeri ini.
Sampai-sampai Ibu dan Ayah harus ada dalam satu tubuh untuk menyambung
kehidupan anak-anak.
Kisah
dari seorang Ibu bernama Fitri, yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima di
Stadion Kota Serang berikut mungkin akan mengiris hati menjadi nestapa. Kenapa
tidak? Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya dan harus menghadapi
pengaruh dari Covid-19, demi mempertahankan hidup beliau dan juga kedua orang
anaknya. Beliau juga sebetulnya mempunyai rumah makan di kantor Pemkot Serang,
tetapi tempat tersebut tidak lagi membawa hasil untuk keluarganya saat kebijakan
pembatasan masuk kerja para pegawai kantor diberlakukan.
Kini
hanya sepetak tanah yang akan digusur di stadion itulah yang menjadi sumber
utama penghasilannya. Walaupun beliau harus menghadapi razia Satpol PP dan
Satgas Covid-19, namun ia harus tetap bertahan demi keberlangsungan hidup
keluarganya. Ya, kesiapa lagi beliau harus meminta, kalau bukan ia sendirilah
yang mencucurkan keringat dan juga air mata, demi hidupnya dan juga kedua orang
anak yang ditanggung semenjak ditinggal suami.
Modal
awal beliau membuka usaha PKL itu berkisar Rp 6.000.000, dan modal dagangannya
sehari-hari sekitar Rp 300.000. Keuntungan yang diraih dalam sehari di awal
sebelum Pandemi Covid, berkisar 500.000, tetapi kini dalam sehari hanya Rp
200.000 yang bisa beliau bawa pulang. Itupun belum termasuk uang sewa tempat
dan juga uang keamanan yang harus beliau keluarkan. Alhasil, pegawai yang
beliau perbantukanpun harus diberhentikan lantaran tidak sanggup lagi untuk
menggajinya.
Ibu
Fitri ini harus berangkat dari jam 08.00 untuk membuka dagangannya, dan akan
kembali pulang setelah jam 24.00 atau bahkan lebih. “Kedua anak saya juga
terkadang ikut ke sini. Tapi anak saya yang bungsu selalu merengek dan bertanya
kapan pulang. Jika sudah begitu, saya harus mengantarkan dia untuk pulang,
setelah itu saya kembali lagi untuk menjaga dagangan.” Demikian tuturan beliau
dengan tertawa kecil. Sungguh mulia sosok Ibu dan sekaligus Ayah ini. Penulis
saat coba berdialog, beliau banyak menceritakan perjalanan hidupnya sebagai
pedagang. Penulis sadar, di luaran sana banyak kondisi yang lebih parah dari
kondisi yang dihadapi Ibu Fitri. Namun sayang, kondisi seperti ini terkadang
luput dari mata sang garuda. Ya, buat apa lagi memperdulikan air laut, ketika
ikan gemuk sudah dalam cengkraman kuku kaki? Tentu hasil perburuan itu harus
segera dilahap dan ketika habis baru melirik lagi ke bawah.
Bantuan
kesejateraan masyarakat di masa Pandemi ini memang ada, tetapi selalu tidak
tepat sasaran dan berlandaskan nepotisme. Beliau sudah pernah mengajukan
proposal bantuan, akan tetapi sebatas menabur garam di lautan. Harapan dari Ibu
Fitri: “Semoga Pandemi Covid-19 ini segeralah berlalu dan usaha ini kembali
normal. Pemerintah juga harus mencari tempat yang baru dan baik bagi kami PKL,
bila tempat ini akan digusur.”
Ya,
kalau bukan kepada Pemerintah sebagai Tuhan nyata yang mereka harus mengadu dan
mengeluh, haruskah mereka ritual dan mengadu kepada Tuhan Goib? Sperma Covid-19
ini sudah makin bersemi dan entah kapan menjadi janin, kemudian lahir untuk
membasmi kebijakan dan kedzoliman di muka bumi. Semoga tidak membunuh kebenaran
dan menumbuhkan kemungkaran di hari esok. Entah ini kenistaan siapa, sampai
begitu teganya membuntingi Ibu Pertiwi kami sampai begitu parah dengan
meneteskan benih-benih nista tersebut ke atas tubuhnya? Kami tak akan mampu
menjawab semua itu. Kami hanya pasrah menerima semuanya yang sudah terjadi.
Namun, jiwa dan raga kami tak diam begitu saja.
Semoga
melalui tulisan singkat ini, bisa membawa wawasan panjang kepada pembaca dan
juga kepada Penulis secara pribadi. Selain itu, gemakan teriakan rakyat yang
tertindas itu hingga terdengar ke langit! Sehingga rembulan terang yang
bercokol di atas sana jatuh dan bersinar di atas tanah. Bukankah sudah seharusnya
cahaya itu ada di tempat yang gelap dan bukan di tempat yang sudah terang? Nah,
demikianlah sebaiknya Pemerintah memposisikan dirinya dan tahu harus dimanakah
ia berada.
Komentar
Posting Komentar