Gelap yang Tak Berujungg
Oleh: Pujangga Dekil
Berikut sebuah cerita sederhana dari alam rasa yang fana. Semoga dapat menghibur.
Malam semakin larut. Langit tetap sunyi, tanpa bintang. Di atas trotoar kota yang lengang, aku berdiri mematung, menggenggam tongkat lipatku yang dingin.
Aku tak tahu, mengapa atau untuk apa aku meninggalkan rumah dan keluarga. Apakah karena egoku? Karena mimpi akan hidup yang lebih baik? Atau sekadar karena aku tak lagi sanggup hidup dalam kekangan budi keluarga ibuku?
Namaku Sanny. Aku tunanetra total sejak usia delapan tahun. Pada umur sebelas, aku sudah merantau jauh dari orangtuaku. Tinggal bersama kakak dari ibu, demi melanjutkan sekolah.
Tapi baru pada usia empat belas, aku benar-benar merasakan hangatnya hidup dan sekolah dengan didampingi ibuku.
Sayangnya, semua itu tidak berlangsung lama.
Ayah dan ibu berpisah. Kami, anak-anaknya, ikut ibu yang kala itu sedang sakit, namun tetap berjualan untuk menafkahi aku, kakakku, dan kedua adikku.
Tahun itu, aku mengikuti perlombaan catur dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional. Aku meraih juara ketiga. Uang hasil kemenangan itu kubelikan sebuah ponsel dan televisi kecil.
Saat itu, kami tinggal di area halaman sebuah SMA, menempati bekas kantin yang menjadi tempat ibu berjualan.
Setelah pulang dari perlombaan itu, ibuku pergi untuk selamanya. Ia tak lagi sanggup melawan penyakit yang telah lama bersarang di tubuhnya.
Dunia runtuh. Aku hancur, rapuh, dan kehilangan arah.
Sejak saat itu, kami bersaudara harus berpisah.
Aku, kakakku, dan adik bungsuku tinggal bersama kakak dari ibu. Sedangkan adikku yang keempat, dibawa ke kota lain oleh paman dari pihak ibu.
Rasanya seperti hidup yang telah kehilangan pusat gravitasi. Hari-hari kulalui dalam kabut — tubuhku masih bergerak, tapi jiwaku seolah mengembara entah ke mana.
Aku masih bersekolah. Masih mengikuti perlombaan. Masih menyapa dan disapa. Tapi semua terasa hampa. Suara ibu terus terngiang dalam kepalaku, seperti gema yang tak juga reda.
Sampai suatu hari, saat mengikuti perlombaan catur tingkat nasional, aku bertemu seorang guru dari provinsi lain.
Ia datang mendampingi siswanya, yang kebetulan juga berteman denganku. Di sela waktu istirahat, ia mendekatiku dan berkata lembut,
“Nak, ibu tahu apa yang terjadi padamu.
Siswa ibu pernah bercerita tentang kamu. Katanya kamu anak hebat dan pintar.
Tapi ibu tak menyangka, kamu ternyata sedang memikul beban sebesar ini.
Kamu tak harus terus terbenam dalam kesedihan, Sayang.”
Aku diam, menggigit bibir, lalu bertanya pelan sambil menunduk, menyembunyikan wajahku,
“Bu… apakah masih ada tempat untuk aku bercerita?”
Guru itu hanya diam. Tapi dari elusannya di kepalaku, aku tahu ia sedang menahan sesuatu yang lebih dalam dari kata-kata.
Ia membungkuk sedikit, lalu menyeka air matanya sendiri yang tak bisa ia sembunyikan meski telah berusaha. Dengan suara parau yang bergetar, ia berkata,
“Nak… mungkin kamu bukan anak kandung ibu.
Tapi kamu bisa memanggil ibu sesuka hatimu.
Kalau hatimu terlalu penuh, biarlah tumpah di sini, di pelukan seorang ibu yang juga tahu rasanya kehilangan.”
Tanpa bisa kucegah, aku langsung memeluknya. Pelukanku erat. Seerat luka yang selama ini kutahan agar tak retak di depan siapa pun.Aku mencoba menahan tangis, tapi suara itu keluar juga—lirih, pecah, berantakan.
“Bu… aku bukan anak yang baik, ya?
Aku sering membuat ibu kandungku marah…
Bahkan di hari terakhirnya, saat aku datang ke rumah sakit, aku masih saja menyakiti hatinya.
Aku membuatnya kesal lagi, Bu.
Tapi aku menyesal. Sungguh menyesal…”
Tangisku pecah di bahunya.
“Aku tak sanggup menahan luka ini, Bu.
Ketika aku peluk tubuhnya yang dingin, kaku…
aku berharap dia bisa bicara satu kali saja.
Untuk bilang dia memaafkanku.
Tapi dia diam. Dan aku tak tahu sampai sekarang…
apakah aku telah dimaafkan atau tidak…”
Pelukannya mengencang. Tak ada jawaban yang ia ucapkan. Hanya kehangatan tubuh dan isaknya yang menyatu dengan isakku. Dalam diam itu, kami berbagi kehilangan yang sama-sama tak bisa dibicarakan.
Langit di luar masih gelap. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendirian di dalam gelap itu.
Sejak pertemuan itu, aku mencoba untuk bangkit. Aku berusaha mengejar mimpi-mimpiku, walau aku hanyalah anak yang mungkin dianggap terbuang.
Aku kembali mengikuti berbagai perlombaan tingkat nasional mewakili provinsiku. Uang dari hasil perlombaan itu kutabung. Tujuanku hanya satu: aku harus bisa berdiri di atas kakiku sendiri, tanpa menggantungkan hidup pada siapa pun.
Dalam konflik keluarga yang rumit, aku memilih tidak memihak siapa pun. Tapi entah kenapa, aku tetap dituduh berkomunikasi dengan ayahku—seseorang yang dibenci oleh keluarga dari almarhumah ibuku.
Nama ayahku seolah menjadi kutukan yang melekat padaku. Setiap hari aku dimaki, disudutkan, dan dijadikan pelampiasan emosi.
Aku mencoba sabar. Aku terus melangkah. Dalam hati aku yakin: suatu saat aku akan pergi. Suatu saat aku tak lagi mendengar kebisingan seperti ini.
Dan saat itulah, aku lulus dari SMA. Aku mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.
Allah pun menjawab doaku, doa-doa yang kutitipkan dalam gelapnya malam, dengan meloloskanku ke salah satu universitas negeri di provinsi yang jauh dari kampung halaman.
Awalnya keluarga menolakku pergi. Terlalu jauh, kata mereka. Tapi aku meyakinkan mereka, bahwa inilah jalanku. Akhirnya aku diizinkan.
Hari aku meninggalkan rumah untuk merantau adalah hari paling sunyi dalam hidupku. Tak ada pelukan. Tak ada ucapan selamat jalan. Hanya aku, tas ransel, tongkat putih lipatku, dan secarik harapan yang kupeluk erat dalam hati.
Aku naik bus malam, duduk di bangku paling belakang. Orang-orang di sekitarku tertidur atau sibuk dengan ponselnya, sedangkan aku hanya duduk diam, mendengarkan deru mesin dan memikirkan masa depanku yang belum tahu seperti apa wujudnya.
Aku menangis diam-diam malam itu. Bukan karena takut. Tapi karena sakit—karena luka yang belum sembuh, dan harus sembuh sendiri. Tak ada yang pernah bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?”
Di kota baruku, aku menyewa kamar kos kecil di dekat kampus. Sempit, pengap, tapi cukup untuk menyandarkan tubuhku setelah seharian berjuang.
Setiap hari aku berjalan menuju kampus, menyusuri trotoar dengan tongkat lipatku. Aku tak melihat arah, tapi aku tahu tujuan.
Aku belajar dengan giat dan aktif di organisasi kampus. Aku mulai dikenal di lingkungan mahasiswa disabilitas. Aku sempat merasa, mungkin hidup mulai berpihak padaku.
Bahkan aku dekat dengan seorang perempuan, teman kelasku yang selalu ada untukku. Ia membantuku, menuntunku, mendengarkan keluh-kesahku.
Kami berjalan bersama, dan untuk sejenak aku merasa tak lagi sendiri.
Tapi hidup tak pernah statis.
Semua mulai berubah ketika aku mendengar, ia telah kembali ke pelukan mantannya, laki-laki yang mencintainya sejak SMA.
Aku hanya bisa diam. Ada perih yang tak bisa kuterjemahkan dengan kata-kata.
Saat itulah aku mulai kehilangan arah. Aku merasa hampa—seperti berjalan dalam lorong panjang tanpa cahaya di ujungnya.
Setelah wisuda, aku pulang ke kampung halamanku. Kupikir, aku bisa menata hidup di sana. Bekerja, berbakti, dan barangkali... melupakan semuanya.
Tapi ternyata tidak. Aku masih terikat budi pada keluarga ibuku. Dan di sana, segala luka lama dibuka kembali. Nama ayahku kembali menjadi kutukan yang dilemparkan kepadaku.
Mereka masih menyalahkannya. Dan setiap makian yang diarahkan padanya... seperti selalu menampar wajahku. Aku merasa seperti beban—beban yang diwarisi dari dosa orang lain. Setiap detik adalah penolakan terhadap keberadaanku sendiri.
Aku tak tahan.
Maka kuputuskan untuk kembali ke kota tempat aku dulu kuliah.
Dengan tekad yang remuk tapi belum padam, aku mencari pekerjaan.
Dan Tuhan masih memberiku ruang, aku diterima di salah satu sekolah. Aku mulai mengajar. Aku mulai menyusun ulang hidup yang sebelumnya ambruk.
Namun badai kehidupan itu tak pernah mengampuniku. Aku semakin kehilangan arah.
Aku tak tahu lagi siapa diriku. Aku tak tahu lagi apakah aku masih pantas menjadi guru, menjadi panutan, atau bahkan... menjadi manusia.
Dan di sinilah aku, di atas trotoar yang gelap dan sunyi. Sendiri. Ditemani suara langkah kakiku yang tak tahu hendak ke mana.
Lampu jalan memantulkan cahaya muram, dan bayanganku pun enggan mengikutiku. Aku tak tahu ke mana aku akan melangkah, dan untuk apa aku harus terus berjalan.
Aku hanya berharap semua ini segera berlalu.
Langkahku pelan menyusuri trotoar yang terasa asing dan dingin. Dalam kebisuan malam, hanya tongkat ini yang menuntunku, satu-satunya yang masih bisa kugenggam di dunia yang terasa tak berpihak.
Aku menyandarkan tubuh lelahku di pagar trotoar. Nafasku berat. Terputus-putus. Ada tangis yang menggantung sejak tadi, tak mampu jatuh. Hanya diam yang menjawab segala sesak.
"Ya Allah... Haruskah aku terus melangkah di atas dosa yang kubangun dengan tanganku sendiri?
Apakah Engkau masih berkenan menerima pelukku dalam sunyi-Mu?
Aku hanya ingin bersimpuh, Ya Allah…
Hanya ingin merasa damai di hadapan-Mu.
Tapi aku tahu… aku terlalu kotor.
Terlalu hina.
Tak pantas berjalan di jalan-Mu."
Suara itu lirih, keluar dari mulutku seperti doa yang tak tahu harus ditujukan ke mana. Aku mencengkeram tongkatku erat-erat. Mungkin hanya itu satu-satunya yang masih mengerti aku.
Lalu tiba-tiba, di tengah keheningan yang sunyi, terdengar sebuah suara dari sampingku. Tenang. Bersahaja. Tak menyapaku langsung, tapi setiap katanya seperti menusuk ke jantung hatiku.
"Hidup ini memang gelap.
Tak ada jaminan esok akan lebih terang dari hari ini.
Yang sudah terjadi tak bisa diperbaiki.
Tapi hidup…
tetap harus dijalani sampai napas berhenti.
Karena mungkin…
di ujung gelap itulah,
akan ditemukan apa yang benar-benar ingin dicari.
Hidup ini memang tak pasti.
Tapi kalau kamu masih bisa merasa…
berarti kamu masih punya tanggung jawab untuk menjalaninya."
Aku terdiam. Aku tak tahu siapa dia. Tak ada suara langkah. Tak ada aroma. Hanya kata-kata itu yang tertinggal, menggema di dalam kepalaku.
Aku pun duduk perlahan, merapatkan tubuhku yang gemetar. Tanganku tetap menggenggam tongkat erat-erat. Aku menunduk. Air mataku luruh perlahan, jatuh tanpa suara.
"Entah sampai kapan...
Aku pasrah.
Aku lelah.
Aku hanya ingin istirahat."_
Aku hanya tahu... aku sudah terlalu jauh tersesat.
Tamat. Semoga dapat dimaknai dan diambil renungannya untuk mendewasakan diri setiap saat.
:)
Komentar
Posting Komentar