Berikut penulis hadirkan lagi satu puisi dari hasil merenung di balik senyuman
layar laptop. Semoga bermanfaat dan dapat menghibur.
Eeeh, terima kasih sudah
membaca tulisannyaaaaa.
Belibis di Batas Digital
Oleh: Pujangga Dekil
Laksana
hembusan angin yang tak dapat ditepis,
zaman melaju, menghapus garis,
mengdigitalisasi batas sarang belibis,
alam dan maya pun saling beriris.
Dulu ia
terbang di langit senyap,
menyusuri danau, hutan, dan gelap,
kini belibis harus
menyesap,
sinyal dan sandi dalam ruang yang cepat.
Literasi kini bukan sekadar
membaca kata,
melainkan membaca dunia yang tak lagi nyata,
menulis bukan hanya
pena dan kertas,
tetapi menyusun makna di layar yang luas.
Anak-anak tumbuh di
tengah derasnya data,
bertanya dalam diam: "Mana yang nyata,
mana yang semu?"
Saat algoritma menjawab lebih dulu.
Kita semua adalah belibis di peradaban baru,
belajar terbang di antara kabut dan sinyal biru.
Maka, marilah cerdas menyikapi
zaman,
agar tak hilang arah, meski dunia terus berjalan.
Komentar
Posting Komentar