Sunyi yang Mengajarkanku Pulang
Oleh: Pujangga Dekil
Puisi ini lahir dari suara hati yang mengembara di tengah malam, menelusuri debur ombak dan jerit sunyi. Tentang rindu, luka, dan harapan yang tak pernah padam, bahkan dalam gelap yang paling pekat.
Laksana debur ombak di tepian pantai selatan,
Jiwa menggemuru bersama jeritan jangkrik dalam kegelapan.
Bayang-bayang malam menari di dinding kenangan,
Mengendap dalam dada yang enggan padam.
Angin mengusik daun-daun ragu,
Menyapu peluh yang tak kasat di kalbu.
Langkah-langkah sunyi menapak pasir basah,
Menuju sunyi yang lebih sunyi dari resah.
Aku tak tahu pada siapa harus kembali,
Saat rindu jadi peluru di dada sendiri.
Namun di ujung pekat dan remuk yang hampa,
Ada harap menyala dari doa yang tak putus di dada.
Wahai malam, jangan terlalu lekas berlalu,
Biarlah aku bercakap dengan waktu.
Sebab dalam gelap, aku mengenal terang,
Dari luka yang diam-diam mengajarkanku pulang.
Komentar
Posting Komentar