Langsung ke konten utama

Mencari Makna Kehidupan

Selamat hari ini. Terima kasih sudah berkunjung. Berikut satu puisi lagi yang hadir bersama hembusan angin kemarau. Semoga dapat diterima.

Menembus Langit Pencarian Diri
Karya: Pujangga Dekil

Fikiranku jauh menembus batas langit.
Meski langkahku seret pahit.
Di antara suara-suara yang bising dan cepat,
Aku meraba sunyi yang tak pernah kudapat.

Dada ini sesak oleh tanya-tanya,
Siapa aku, untuk apa luka ini ada?
Hari-hari berlalu seperti asap,
Tak meninggalkan jejak, hanya lenyap.

Aku menciumi sisa-sisa cahaya,
Di balik dinding jiwa yang mulai rapuh.
Tapi harapan tak pernah benar-benar sirna,
Ia bisu, namun tak luruh.

Dunia bicara tentang pencapaian,
Tapi aku hanya ingin kedamaian.
Bukan dari luar, tapi dalam dada,
Tempat sunyi itu menjelma cahaya.

Jika hidup adalah teka-teki,
Maka aku rela tak menjawabnya kini.
Cukup berjalan, meski sendiri,
Dalam terang yang belum kutemui.

Sebab barangkali, makna bukan untuk dikejar,
Tapi dipeluk di tengah gentar.
Dan sakit ini bukan akhir,
Melainkan pintu menuju diri yang lebih jujur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Damai Bersama Alam

Dalam keheningan alam, seringkali kita temukan suara jiwa. Puisi ini kutulis sebagai renungan tentang kedamaian, tentang bagaimana alam mengajarkan kita untuk tenang, menerima, dan bersyukur. Semoga setiap baitnya menjadi pelukan hangat bagi siapa pun yang membacanya. Damai Itu Indah Karya: Pujangga Dekil Damai itu indah, angin berhembus tenang. Langit terhampar luas di atas puing-puing awan. Sungai mengalir dan bertemu menjadi muara. Daun-daun melambai jatuh menuju tanah. Mentari bersandar di ujung cakrawala, menghangatkan dada bumi tanpa suara. Burung-burung pulang membawa cerita, tentang langit yang tak pernah meminta apa-apa. Gunung berdiri dalam diam yang bijaksana, menyimpan sabar dalam dada yang membara. Sementara rerumputan bersujud pada senja, menyambut malam dengan doa sederhana. Oh alam, kau guru segala makna, mengajarkan damai lewat sunyi dan cahaya. Tak perlu kata, tak perlu suara, cukup hadir dan rasa yang terbuka.

Alat Tulis Dan Senja

Alat Tulis Dan Senja Oleh: PUJANGGA DEKIL Senja kembali hadir di sela-sela bukit.   Awan-awan putih kian kelabu bersemburat cahaya mentari senja.  Aku masih terpaku dalam kepahitan itu. Tatapanku hampa, fikiranku jauh mengembara menembus batas langit. Akankah pangkal malam kali ini masih sama seperti hari-hari kemarin?  Sejenak aku menyibak tirai kehidupan yang kian melapuk dalam kekosongan. Jalanan di depan saung itu, sekumpulan debu kian damai dari usikan badai. Sesaat ku  layangkan pandangan ke ufuk barat.  Senja itu kian ditelan temaram.  Buku yang ada dalam genggamanku turut diam membisu dalam kesunyian seraya mengamati  realita hidup.   Aku pun tersenyum  sembari berkata-kata dengan pena: "Hmmm, apakah kamu tahu? Mengapa kau penaku, bukuku, dan sekumpulan awan-awan di langit itu yang selalu aku ajak bercengkrama?  Ah, aku tahu. Kalian tak akan bisa menduganya.  Kendati demikian, kalianlah yang paling mengerti d...

Aku Ingin Menjadi Senja

Narasi Pembuka Kadang, cinta tidak datang dengan dentang atau tanda. Ia hadir seperti senja—tidak dijemput, tapi tetap setia datang meski tak pernah diminta. Dan seperti senja pula, cinta itu tahu kapan harus menghilang, agar tak meninggalkan luka, hanya kenangan yang samar dan hangat. Aku Ingin Menjadi Senja Oleh: Pujangga Dekil Aku ingin menjadi senja yang kau tatap tanpa pernah kau tunggu, datang diam-diam, lalu hilang sebelum kau sempat menyesap warnanya. Aku ingin menjadi perhentian yang tak pernah kau pilih, hanya sekilas lewat, seperti bayangan yang kau pikir bukan siapa-siapa. Aku ingin menjadi senyap yang mengiringi langkahmu pulang, tak menuntut arah, hanya ingin bersamamu tanpa harus kau sadari.