Puisi ini lahir sebelum mentari menggantung di tengah langit. Selamat membaca.
Karya: Pujangga Dekil
Pagi yang indah, mentari menyapa,
Embun menari di daun yang renta.
Aku berjalan pelan tak tergesa,
Menjemput hikmah dalam setiap kata.
Suara riang tawa bersahutan,
Langkah kecil penuh harapan.
Mereka murid, aku teman,
Di kelas kehidupan yang tak berkesudahan.
Kupetik sabar dari pandang mata,
Meski dunia tak selalu ramah.
Mereka mengajarku cara bertahan,
Dengan hati yang tetap basah.
Tangan mungil menyentuh jiwaku,
Mereka tak hanya belajar dariku.
Tapi akulah yang terus terpandu,
Oleh kejujuran dan tatap lurus itu.
Setiap huruf yang mereka eja,
Adalah doa yang mengudara.
Bukan sekadar pelajaran biasa,
Namun lentera bagi dunia yang hampa.
Waktu berlalu namun makna menetap,
Tak semua pelajaran ditulis di kitab.
Kadang sunyi pun memberi jawab,
Dalam diam, cinta kerap menatap.
Kupeluk pagi tanpa keluh,
Sebab hadir mereka adalah anugerah.
Meski langkahku sering tertatih,
Semangat mereka menyalakan lilin hikmah.
Pagi yang indah, tak lagi sendiri,
Bersama muridku, kutemukan jati diri.
Kami menanam kata, memanen arti,
Di ladang sunyi bernama hati.
Komentar
Posting Komentar