“Cerpen ini terinspirasi dari game audio untuk tunanetra berjudul ‘Constant Battle’. Ditulis dari sudut pandang pemain yang tak hanya berperang melawan musuh, tapi juga dirinya sendiri.”
Cerpen ini juga tidak semua sesuai dengan tempat dan fitur dalam game. Jika pembaca ingin mengetahuinya lebih ril, bisa memainkan game nya sendiri. Intinya bagi penulis, ini game yang sangat menghibur dan menyenangkan, disaat pulang kerja atau lagi santai. Selamat membaca.
CONSTANT BATTLE
Oleh: Pujangga Dekil
Dunia ini kadang terlalu terang. Terlalu ribut.
Di luar sana, orang-orang bicara soal kecepatan, layar penuh warna, hidup yang harus dijalani dengan mata terbuka. Tapi aku? Aku lebih percaya pada suara. Pada keheningan di antara detik-detik hampa.
Namaku Sanny Alfakir.
Aku seorang tunanetra total sejak kecil. Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku akan masuk ke satu-satunya dunia yang membuatku merasa utuh:
Constant Battle.
Aku kenakan headsetku. Jemariku hafal urutannya.
Login.
Masuk.
Suara dentuman pintu logam terbuka.
Langkah kaki berat menyambutku.
Latar belakang: suara desir pasir dan angin menusuk.
[Sistem]: “Anda memasuki: Medan Pertempuran.”
[Sistem]: “Pemain aktif: Nayla, Arlot, Dewa, Deni Irawan.”
[Chat Publik – Rino]: “Selamat malam, pejuang. Server Indonesia aktif. Bersiaplah.”
Aku tak langsung bergerak. Hanya diam. Mendengarkan.
Setiap suara dalam game ini seperti gema dari pikiranku sendiri.
Langkah kaki Arlot yang cepat dan berayun—terdengar seperti rasa percaya diri yang dulu pernah kupunya.
Nada ceria Nayla di chat tim—mengingatkanku pada semangat masa awal bermain.
Lalu, ada Dewa. Instruktur. Tegas, tak banyak bicara. Kadang membuatku merasa seperti anak kecil.
[Chat Tim – Dewa]: “Sanny, kau diam. Fokus, atau logout.”
[Chat Tim – Sanny]: “Aku hanya mendengarkan. Kadang, itu bagian dari bertarung.”
[Chat Tim – Nayla]: “Wah, puitis sekali malam ini, Bang.”
Aku tersenyum kecil. Tapi di dalam, aku tahu… aku sedang kosong.
Belakangan ini, aku main hanya untuk mengisi waktu. Bukan untuk menang.
Bahkan kalah pun sudah tak menakutkan.
Yang menakutkan adalah: aku tak tahu lagi kenapa aku masih bermain.
[Chat Tim – Deni Irawan]: “Musuh di peta barat. Langkah kaki ganda. Bisa Ocean, bisa Ultrafier.”
[Chat Tim – Arlot]: “Sanny, kau ikut atau tidak?”
[Chat Tim – Sanny]: “Aku di belakang. Tapi jangan andalkan aku. Aku hanya penonton malam ini.”
Itu bukan kalimat jujur. Tapi itu yang ingin kusampaikan.
Aku, si veteran, dulunya pemain paling sering menang, kini ragu pada setiap langkah.
Apa yang berubah?
Bukan game-nya. Tapi aku.
Langkah musuh mendekat.
Senyap. Ragu. Tapi pasti.
Aku tahu suara itu. Ocean.
Terlalu percaya diri. Tapi selalu presisi.
Aku menebak jalur lintasannya. Aku bisa menembaknya sekarang. Tapi aku diam.
[Chat Tim – Nayla]: “Sanny! Dia di depanmu!”
[Chat Tim – Sanny]: “Aku tahu.”
Tapi tetap tak kutembak.
Biar dia lewat. Biar musuh menang.
Biar aku... kalah sekali lagi.
Karena malam ini, aku bukan bertarung melawan Ocean.
Aku sedang bertarung melawan diriku sendiri.
Langkah kaki Ocean menjauh.
Suara angin kembali mendesis. Hening seperti jeda doa.
Aku tetap berdiri. Tak bergerak. Tak mengejar.
Di chat tim, tidak ada yang bicara. Hanya titik-titik hening yang mengambang di layar pikiranku.
[Chat Tim – Nayla]: “Kau baik-baik saja?”
[Chat Tim – Sanny]: “Aku tidak tahu.”
[Chat Tim – Nayla]: “Kau pernah bilang: suara itu mata. Tapi malam ini suaramu seperti hilang.”
[Chat Tim – Sanny]: “Mungkin aku kehilangan diriku di medan ini.”
Aku mendengar suara Nayla diam agak lama sebelum membalas.
[Chat Tim – Nayla]: “Aku masuk game ini karena kau. Dulu aku takut salah tombol, takut mati konyol. Tapi kau ajari aku mendengar. Bukan hanya dengan telinga, tapi dengan hati.”
[Chat Tim – Nayla]: “Kalau kau lupa caranya bermain, mungkin ini saatnya mendengarkan lagi.”
Aku ingin tertawa kecil. Tapi juga nyaris menangis.
Tiap pemain di game ini adalah gema dari dunia nyata.
Mereka membawa luka, rindu, harapan, dan kesepian—dimasukkan ke dalam dunia suara, seolah berharap game ini bisa menyembuhkan, atau paling tidak menampung.
Constant Battle bukan hanya arena.
Ia jadi pengakuan.
Dan kadang... pengampunan.
Langkah Dewa mendekat. Suaranya khas: mantap, stabil, tidak tergesa.
[Chat Tim – Dewa]: “Sanny. Tak semua pertarungan butuh peluru. Tapi setiap pemain harus memilih: tetap di medan atau pergi.”
[Chat Tim – Sanny]: “Jika aku pergi, apa yang hilang?”
[Chat Tim – Dewa]: “Mungkin tak ada. Mungkin segalanya.”
Sunyi lagi.
Aku menengadah, padahal mataku tak melihat. Tapi kebiasaan itu tak hilang.
Ada rasa hampa. Tapi juga... ruang kosong yang memberi napas.
Malam ini aku sadar: bukan kemenangan yang kucari. Bukan juga pelarian.
Mungkin... aku hanya ingin didengar.
Dan dalam game ini, yang tanpa gambar, tanpa cahaya—justru di sinilah aku paling nyata.
[Chat Publik – Ocean]: “Kita menang tipis. Tapi kalian hebat.”
[Chat Publik – Ultrafier]: “Indonesia selalu mengejutkan.”
[Chat Tim – Nayla]: “Kau dengar itu, Bang? Kita kalah, tapi dihormati.”
[Chat Tim – Sanny]: “Aku tak apa-apa kalah. Asal bukan dari diriku sendiri.”
Logout initiated.
Suara pintu logam menutup perlahan.
Kepalaku terasa ringan.
Aku tak tahu apakah besok akan bermain lagi. Tapi malam ini aku tak menyesal.
Kadang, pertarungan paling berat bukan di antara peluru dan ledakan.
Tapi dalam sunyi. Dalam pilihan untuk tetap berdiri, meski tak ingin lagi maju.
Dan malam ini... aku masih berdiri.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar