Puisi tentang hilangnya ruang hidup dan jejak masa kecil
Di tengah derasnya arus pembangunan, ada ruang-ruang kenangan yang perlahan menghilang dari pandangan. Kampung halaman, tempat kita tumbuh, berubah menjadi bayang samar dalam benak. Puisi ini lahir dari kerinduan akan akar, akan tanah tempat kaki pertama kali berpijak.
Desaku Hilang
Oleh: Pujangga Dekil
Lidah-lidah ombak kini terbendung tanggul,
Bening sungai menghitam, tak lagi menyegarkan.
Jalanan batu dibungkam oleh lapisan aspal,
Sapaan sosial mengabur di balik layar digital.
Aku ingin pulang—
tapi pantai tempatku lahir telah tenggelam.
Aku rindu kampung—
namun mentari di ufuknya enggan kembali pulang.
Di mana jejak langkah masa kecilku?
Di mana suara bambu menari ditiup angin?
Tinggal kenangan,
yang perlahan digilas deru zaman.
Komentar
Posting Komentar