Langsung ke konten utama

Ketika Tatapanku Menjadi Gelap

Narasi Pembuka:

Dalam dunia yang perlahan kehilangan warna, aku belajar melihat dengan cara yang berbeda. Gelap tak selalu berarti tiada , kadang justru di sanalah terang menyembunyikan dirinya. Inilah sepotong puisiku, lahir dari perasaan kehilangan, rindu pada cahaya, dan damai yang kutemukan dalam sunyi.


Ketika Tatapanku Menjadi Gelap


Oleh: Pujangga Dekil


Ketika tatapanku menjadi gelap,

Langit pun menjauh, tanpa warna, tanpa batas.

Aku ingin meraba birunya awan,

Tapi yang kudapat hanyalah bisu yang membeku di atas.


Aku ingin menatap gelombang yang menari,

Tapi laut itu kini tinggal desir dalam imaji.

Tak ada kilau, tak ada buih memeluk mata,

Hanya sunyi yang menumpuk dalam dada.


Segalanya terasa jauh,

Cahaya, wajah, jejak bayang.

Aku mendekap gelap seperti sahabat lama,

Yang tak bersuara, tapi tahu semua luka.


Di dunia tanpa warna ini aku berteduh,

Menunggu cahaya yang mungkin tak akan datang.

Tapi kupeluk malam itu erat-erat,

Karena hanya dia yang sudi tinggal — tanpa bertanya, tanpa menghilang. 

Komentar

  1. Balasan
    1. Aku senang jika tulisanku bisa berkesan untukmu.
      Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan meninggalkan jejak. đź“–

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Damai Bersama Alam

Dalam keheningan alam, seringkali kita temukan suara jiwa. Puisi ini kutulis sebagai renungan tentang kedamaian, tentang bagaimana alam mengajarkan kita untuk tenang, menerima, dan bersyukur. Semoga setiap baitnya menjadi pelukan hangat bagi siapa pun yang membacanya. Damai Itu Indah Karya: Pujangga Dekil Damai itu indah, angin berhembus tenang. Langit terhampar luas di atas puing-puing awan. Sungai mengalir dan bertemu menjadi muara. Daun-daun melambai jatuh menuju tanah. Mentari bersandar di ujung cakrawala, menghangatkan dada bumi tanpa suara. Burung-burung pulang membawa cerita, tentang langit yang tak pernah meminta apa-apa. Gunung berdiri dalam diam yang bijaksana, menyimpan sabar dalam dada yang membara. Sementara rerumputan bersujud pada senja, menyambut malam dengan doa sederhana. Oh alam, kau guru segala makna, mengajarkan damai lewat sunyi dan cahaya. Tak perlu kata, tak perlu suara, cukup hadir dan rasa yang terbuka.

Alat Tulis Dan Senja

Alat Tulis Dan Senja Oleh: PUJANGGA DEKIL Senja kembali hadir di sela-sela bukit.   Awan-awan putih kian kelabu bersemburat cahaya mentari senja.  Aku masih terpaku dalam kepahitan itu. Tatapanku hampa, fikiranku jauh mengembara menembus batas langit. Akankah pangkal malam kali ini masih sama seperti hari-hari kemarin?  Sejenak aku menyibak tirai kehidupan yang kian melapuk dalam kekosongan. Jalanan di depan saung itu, sekumpulan debu kian damai dari usikan badai. Sesaat ku  layangkan pandangan ke ufuk barat.  Senja itu kian ditelan temaram.  Buku yang ada dalam genggamanku turut diam membisu dalam kesunyian seraya mengamati  realita hidup.   Aku pun tersenyum  sembari berkata-kata dengan pena: "Hmmm, apakah kamu tahu? Mengapa kau penaku, bukuku, dan sekumpulan awan-awan di langit itu yang selalu aku ajak bercengkrama?  Ah, aku tahu. Kalian tak akan bisa menduganya.  Kendati demikian, kalianlah yang paling mengerti d...

Aku Ingin Menjadi Senja

Narasi Pembuka Kadang, cinta tidak datang dengan dentang atau tanda. Ia hadir seperti senja—tidak dijemput, tapi tetap setia datang meski tak pernah diminta. Dan seperti senja pula, cinta itu tahu kapan harus menghilang, agar tak meninggalkan luka, hanya kenangan yang samar dan hangat. Aku Ingin Menjadi Senja Oleh: Pujangga Dekil Aku ingin menjadi senja yang kau tatap tanpa pernah kau tunggu, datang diam-diam, lalu hilang sebelum kau sempat menyesap warnanya. Aku ingin menjadi perhentian yang tak pernah kau pilih, hanya sekilas lewat, seperti bayangan yang kau pikir bukan siapa-siapa. Aku ingin menjadi senyap yang mengiringi langkahmu pulang, tak menuntut arah, hanya ingin bersamamu tanpa harus kau sadari.