Narasi Pembuka
Dalam setiap keheningan, ada jejak yang tak pernah terlihat. Langkah-langkah yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang terus mencari makna di balik sunyi. Puisi ini lahir dari renungan tentang kesendirian, kehampaan, dan absurditas hidup yang tak selalu menemukan jawab.
Oleh: Pujangga Dekil
Di lorong waktu yang tak berpintu,
aku berjalan tanpa tahu
sedang mencari
atau melarikan diri.
Langkahku tak meninggalkan jejak
di tanah yang enggan mengingat.
Bayang pun enggan menemaniku,
seolah aku tak pernah nyata.
Kakiku enggan menapak,
garis hidup setapak.
Langit seakan terbahak,
menatap jiwaku terpalak.
Aku pun bertanya pada hening,
"Siapakah aku dalam sunyi ini?"
Tapi suara tak lagi menggema—
yang ada hanya gema dari luka.
Komentar
Posting Komentar