Narasi Pembuka
Bulan Ramadan selalu hadir membawa ketenangan dan cahaya bagi hati yang rindu pada kebaikan; melalui puisi ini, mari kita merenungi makna sabar, doa, dan cinta dalam setiap detik bulan suci.
Cahaya di Bulan Suci
Oleh: Pujangga Dekil
Ramadan datang mengetuk jiwa,
membawa sunyi yang penuh makna,
di antara lapar dan dahaga,
ada rindu yang tumbuh kepada-Nya.
Fajar berbisik lembut di hati,
membangunkan doa sebelum mentari,
setiap niat terpatri suci,
mengharap ridha Ilahi Rabbi.
Siang terik menguji sabar,
menahan lisan, menjaga sadar,
bukan sekadar menunggu iftar,
namun melatih jiwa agar tegar.
Malam turun berselimut cahaya,
tarawih berdiri penuh percaya,
ayat suci mengalun merdu di udara,
menghapus dosa, melembutkan rasa.
Ramadan, engkau madrasah jiwa,
mengajarkan cinta dan derma,
semoga selepas engkau tiada,
iman tetap menyala selamanya.
Dalam keheningan alam, seringkali kita temukan suara jiwa. Puisi ini kutulis sebagai renungan tentang kedamaian, tentang bagaimana alam mengajarkan kita untuk tenang, menerima, dan bersyukur. Semoga setiap baitnya menjadi pelukan hangat bagi siapa pun yang membacanya. Damai Itu Indah Karya: Pujangga Dekil Damai itu indah, angin berhembus tenang. Langit terhampar luas di atas puing-puing awan. Sungai mengalir dan bertemu menjadi muara. Daun-daun melambai jatuh menuju tanah. Mentari bersandar di ujung cakrawala, menghangatkan dada bumi tanpa suara. Burung-burung pulang membawa cerita, tentang langit yang tak pernah meminta apa-apa. Gunung berdiri dalam diam yang bijaksana, menyimpan sabar dalam dada yang membara. Sementara rerumputan bersujud pada senja, menyambut malam dengan doa sederhana. Oh alam, kau guru segala makna, mengajarkan damai lewat sunyi dan cahaya. Tak perlu kata, tak perlu suara, cukup hadir dan rasa yang terbuka.
Komentar
Posting Komentar