Langsung ke konten utama

Cahaya di Balik Keterbatasan

Narasi Pembuka Setiap manusia memiliki perjuangannya masing-masing dalam menjalani kehidupan. Bagi penyandang disabilitas, keterbatasan bukanlah akhir dari harapan, melainkan awal dari kekuatan untuk terus melangkah dan membuktikan bahwa mimpi tetap bisa diraih. Cahaya di Balik Keterbatasan Oleh: Pujangga Dekil Di jalan sunyi yang tak semua orang pahami, langkah kami kadang dianggap tak berarti. Namun di balik sunyi yang orang lihat sepi, ada tekad kuat yang tak pernah berhenti. Kami mungkin berjalan dengan cara berbeda, melihat dunia dengan rasa yang tak sama. Namun mimpi tetap terbang setinggi angkasa, mencari harapan di setiap warna kehidupan. Bukan tubuh yang menentukan arah, bukan keterbatasan yang mematahkan langkah. Yang membuat kami berdiri tetap teguh, adalah hati yang menolak untuk rapuh. Setiap hari adalah perjuangan baru, melawan ragu yang datang membelenggu. Namun harapan selalu menuntun langkah, mengajarkan bahwa hidup tetap indah. Maka jangan lihat kami dari kekurangan, lihatlah cahaya dalam perjuangan. Sebab di balik segala keterbatasan, tersimpan kekuatan dan keajaiban kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Damai Bersama Alam

Dalam keheningan alam, seringkali kita temukan suara jiwa. Puisi ini kutulis sebagai renungan tentang kedamaian, tentang bagaimana alam mengajarkan kita untuk tenang, menerima, dan bersyukur. Semoga setiap baitnya menjadi pelukan hangat bagi siapa pun yang membacanya. Damai Itu Indah Karya: Pujangga Dekil Damai itu indah, angin berhembus tenang. Langit terhampar luas di atas puing-puing awan. Sungai mengalir dan bertemu menjadi muara. Daun-daun melambai jatuh menuju tanah. Mentari bersandar di ujung cakrawala, menghangatkan dada bumi tanpa suara. Burung-burung pulang membawa cerita, tentang langit yang tak pernah meminta apa-apa. Gunung berdiri dalam diam yang bijaksana, menyimpan sabar dalam dada yang membara. Sementara rerumputan bersujud pada senja, menyambut malam dengan doa sederhana. Oh alam, kau guru segala makna, mengajarkan damai lewat sunyi dan cahaya. Tak perlu kata, tak perlu suara, cukup hadir dan rasa yang terbuka.

Alat Tulis Dan Senja

Alat Tulis Dan Senja Oleh: PUJANGGA DEKIL Senja kembali hadir di sela-sela bukit.   Awan-awan putih kian kelabu bersemburat cahaya mentari senja.  Aku masih terpaku dalam kepahitan itu. Tatapanku hampa, fikiranku jauh mengembara menembus batas langit. Akankah pangkal malam kali ini masih sama seperti hari-hari kemarin?  Sejenak aku menyibak tirai kehidupan yang kian melapuk dalam kekosongan. Jalanan di depan saung itu, sekumpulan debu kian damai dari usikan badai. Sesaat ku  layangkan pandangan ke ufuk barat.  Senja itu kian ditelan temaram.  Buku yang ada dalam genggamanku turut diam membisu dalam kesunyian seraya mengamati  realita hidup.   Aku pun tersenyum  sembari berkata-kata dengan pena: "Hmmm, apakah kamu tahu? Mengapa kau penaku, bukuku, dan sekumpulan awan-awan di langit itu yang selalu aku ajak bercengkrama?  Ah, aku tahu. Kalian tak akan bisa menduganya.  Kendati demikian, kalianlah yang paling mengerti d...

Aku Ingin Menjadi Senja

Narasi Pembuka Kadang, cinta tidak datang dengan dentang atau tanda. Ia hadir seperti senja—tidak dijemput, tapi tetap setia datang meski tak pernah diminta. Dan seperti senja pula, cinta itu tahu kapan harus menghilang, agar tak meninggalkan luka, hanya kenangan yang samar dan hangat. Aku Ingin Menjadi Senja Oleh: Pujangga Dekil Aku ingin menjadi senja yang kau tatap tanpa pernah kau tunggu, datang diam-diam, lalu hilang sebelum kau sempat menyesap warnanya. Aku ingin menjadi perhentian yang tak pernah kau pilih, hanya sekilas lewat, seperti bayangan yang kau pikir bukan siapa-siapa. Aku ingin menjadi senyap yang mengiringi langkahmu pulang, tak menuntut arah, hanya ingin bersamamu tanpa harus kau sadari.