Narasi Pembuka
Kadang cinta hadir di tempat yang tidak mudah diperjuangkan. Puisi ini menggambarkan kisah dua hati yang saling mencintai, namun terhalang oleh perbedaan keyakinan. Semoga pembaca bisa mengambil prinsip hidup dari puisi sederhana ini. Yaa, jangan lupa tinggalkan komentarnya. Terima kasih.
Di Antara Doa yang Berbeda
Oleh: Pujangga Dekil
Di sebuah senja yang pelan memudar,
kita pernah saling menggenggam harapan,
namun langit menulis kisah yang getir,
ketika doa kita menuju arah yang berlainan.
Aku menyebut nama Tuhan dengan caraku,
kau memanggil-Nya dengan keyakinanmu,
tetapi cinta yang tumbuh di antara kita
tak pernah belajar bagaimana harus berpisah.
Langkah kita berjalan di jalan yang sama,
namun kitab-kitab berdiri seperti batas,
bukan karena hati kita ingin menjauh,
melainkan dunia yang tak memberi ruang.
Sering kupikir cinta cukup untuk bertahan,
cukup kuat melawan segala perbedaan,
namun malam mengajarkanku perlahan,
bahwa tidak semua rindu boleh diperjuangkan.
Kini kita berdiri di dua pintu yang sunyi,
membawa doa masing-masing dalam diam,
mencintai tanpa mampu memiliki,
seperti hujan yang jatuh tapi tak sampai ke tanah.
Jika suatu hari takdir kembali mempertemukan,
biarlah kita hanya saling tersenyum saja,
sebab pernah ada cinta yang begitu tulus,
meski harus gugur di antara perbedaan iman.
Komentar
Posting Komentar