Narasi Pembuka
Puisi sering kali lahir dari pergulatan batin yang tidak selalu mudah dijelaskan dengan kata-kata. Di balik setiap larik, ada pencarian makna, kegelisahan, dan usaha memahami hakikat kehidupan. Puisi ini mencoba menelusuri perjalanan seorang penyair yang tidak hanya menulis kata, tetapi juga memburu jiwa yang tersembunyi di balik realitas. Dalam sunyi, dalam diam, dan dalam perenungan, lahirlah pertanyaan tentang kebenaran, ilusi kesejahteraan, dan hakikat hidup yang sering tersembunyi dalam rahasia terdalam manusia.
Sirr di Balik Kata
Oleh: Pujangga Dekil
Syair penyair mencair,
Ajaib bukan sekadar eliksir,
Tenang laksana air mengalir,
Hakikat terselubung dalam sirr.
Aku menulis memburu jiwa,
Kau memburu jiwa dengan menulis,
Aku diam agar kata berbicara,
Kau berbicara untuk diam yang sunyi.
Sesederhana rasa kaum tertindas,
Menapak jalan hukum kematian,
Menenggelamkan norma yang membuihkan kebenaran,
Ilusi kesejahteraan mengerat realitas.
Di lorong sunyi waktu berjalan,
Manusia mencari arti keberadaan,
Namun sering terjebak bayang harapan,
Yang menjauh dari makna kehidupan.
Maka kutitipkan kata pada keheningan,
Agar waktu membaca makna yang hilang,
Sebab kebenaran tak selalu bersuara lantang,
Kadang ia hanya berbisik dalam ruang yang tenang.
Komentar
Posting Komentar