Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Digitalisasi Bukan Ilusi

Berikut penulis hadirkan lagi satu puisi dari hasil merenung di balik senyuman layar laptop. Semoga bermanfaat dan dapat menghibur. Eeeh, terima kasih sudah membaca tulisannyaaaaa.  Belibis di Batas Digital Oleh: Pujangga Dekil Laksana hembusan angin yang tak dapat ditepis, zaman melaju, menghapus garis, mengdigitalisasi batas sarang belibis, alam dan maya pun saling beriris. Dulu ia terbang di langit senyap, menyusuri danau, hutan, dan gelap, kini belibis harus menyesap, sinyal dan sandi dalam ruang yang cepat. Literasi kini bukan sekadar membaca kata, melainkan membaca dunia yang tak lagi nyata, menulis bukan hanya pena dan kertas, tetapi menyusun makna di layar yang luas. Anak-anak tumbuh di tengah derasnya data, bertanya dalam diam: "Mana yang nyata, mana yang semu?" Saat algoritma menjawab lebih dulu. Kita semua adalah belibis di peradaban baru, belajar terbang di antara kabut dan sinyal biru. Maka, marilah cerdas menyikapi zaman, agar tak hilang arah, meski dunia terus ...

Mencari Makna Kehidupan

Selamat hari ini. Terima kasih sudah berkunjung. Berikut satu puisi lagi yang hadir bersama hembusan angin kemarau. Semoga dapat diterima. Menembus Langit Pencarian Diri Karya: Pujangga Dekil Fikiranku jauh menembus batas langit. Meski langkahku seret pahit. Di antara suara-suara yang bising dan cepat, Aku meraba sunyi yang tak pernah kudapat. Dada ini sesak oleh tanya-tanya, Siapa aku, untuk apa luka ini ada? Hari-hari berlalu seperti asap, Tak meninggalkan jejak, hanya lenyap. Aku menciumi sisa-sisa cahaya, Di balik dinding jiwa yang mulai rapuh. Tapi harapan tak pernah benar-benar sirna, Ia bisu, namun tak luruh. Dunia bicara tentang pencapaian, Tapi aku hanya ingin kedamaian. Bukan dari luar, tapi dalam dada, Tempat sunyi itu menjelma cahaya. Jika hidup adalah teka-teki, Maka aku rela tak menjawabnya kini. Cukup berjalan, meski sendiri, Dalam terang yang belum kutemui. Sebab barangkali, makna bukan untuk dikejar, Tapi dipeluk di tengah gentar. Dan sakit ini bukan akhir, Melainkan p...

Jerit Malam di Tepian Jiwa

Sunyi yang Mengajarkanku Pulang Oleh: Pujangga Dekil Puisi ini lahir dari suara hati yang mengembara di tengah malam, menelusuri debur ombak dan jerit sunyi. Tentang rindu, luka, dan harapan yang tak pernah padam, bahkan dalam gelap yang paling pekat. Laksana debur ombak di tepian pantai selatan,  Jiwa menggemuru bersama jeritan jangkrik dalam kegelapan. Bayang-bayang malam menari di dinding kenangan, Mengendap dalam dada yang enggan padam. Angin mengusik daun-daun ragu, Menyapu peluh yang tak kasat di kalbu. Langkah-langkah sunyi menapak pasir basah, Menuju sunyi yang lebih sunyi dari resah. Aku tak tahu pada siapa harus kembali, Saat rindu jadi peluru di dada sendiri. Namun di ujung pekat dan remuk yang hampa, Ada harap menyala dari doa yang tak putus di dada. Wahai malam, jangan terlalu lekas berlalu, Biarlah aku bercakap dengan waktu. Sebab dalam gelap, aku mengenal terang, Dari luka yang diam-diam mengajarkanku pulang.

Gelap yang Tak Berujung

Gelap yang Tak Berujungg Oleh: Pujangga Dekil Berikut sebuah cerita sederhana dari alam rasa yang fana. Semoga dapat menghibur. Malam semakin larut. Langit tetap sunyi, tanpa bintang. Di atas trotoar kota yang lengang, aku berdiri mematung, menggenggam tongkat lipatku yang dingin. Aku tak tahu, mengapa atau untuk apa aku meninggalkan rumah dan keluarga. Apakah karena egoku? Karena mimpi akan hidup yang lebih baik? Atau sekadar karena aku tak lagi sanggup hidup dalam kekangan budi keluarga ibuku? Namaku Sanny. Aku tunanetra total sejak usia delapan tahun. Pada umur sebelas, aku sudah merantau jauh dari orangtuaku. Tinggal bersama kakak dari ibu, demi melanjutkan sekolah. Tapi baru pada usia empat belas, aku benar-benar merasakan hangatnya hidup dan sekolah dengan didampingi ibuku. Sayangnya, semua itu tidak berlangsung lama. Ayah dan ibu berpisah. Kami, anak-anaknya, ikut ibu yang kala itu sedang sakit, namun tetap berjualan untuk menafkahi aku, kakakku, dan kedua adikku. Tahun itu, aku...

Damai Bersama Alam

Dalam keheningan alam, seringkali kita temukan suara jiwa. Puisi ini kutulis sebagai renungan tentang kedamaian, tentang bagaimana alam mengajarkan kita untuk tenang, menerima, dan bersyukur. Semoga setiap baitnya menjadi pelukan hangat bagi siapa pun yang membacanya. Damai Itu Indah Karya: Pujangga Dekil Damai itu indah, angin berhembus tenang. Langit terhampar luas di atas puing-puing awan. Sungai mengalir dan bertemu menjadi muara. Daun-daun melambai jatuh menuju tanah. Mentari bersandar di ujung cakrawala, menghangatkan dada bumi tanpa suara. Burung-burung pulang membawa cerita, tentang langit yang tak pernah meminta apa-apa. Gunung berdiri dalam diam yang bijaksana, menyimpan sabar dalam dada yang membara. Sementara rerumputan bersujud pada senja, menyambut malam dengan doa sederhana. Oh alam, kau guru segala makna, mengajarkan damai lewat sunyi dan cahaya. Tak perlu kata, tak perlu suara, cukup hadir dan rasa yang terbuka.

Murit Istimewah

Puisi ini lahir sebelum mentari menggantung di tengah langit. Selamat membaca. Pagi Bersama Muridku Karya: Pujangga Dekil Pagi yang indah, mentari menyapa, Embun menari di daun yang renta. Aku berjalan pelan tak tergesa, Menjemput hikmah dalam setiap kata. Suara riang tawa bersahutan, Langkah kecil penuh harapan. Mereka murid, aku teman, Di kelas kehidupan yang tak berkesudahan. Kupetik sabar dari pandang mata, Meski dunia tak selalu ramah. Mereka mengajarku cara bertahan, Dengan hati yang tetap basah. Tangan mungil menyentuh jiwaku, Mereka tak hanya belajar dariku. Tapi akulah yang terus terpandu, Oleh kejujuran dan tatap lurus itu. Setiap huruf yang mereka eja, Adalah doa yang mengudara. Bukan sekadar pelajaran biasa, Namun lentera bagi dunia yang hampa. Waktu berlalu namun makna menetap, Tak semua pelajaran ditulis di kitab. Kadang sunyi pun memberi jawab, Dalam diam, cinta kerap menatap. Kupeluk pagi tanpa keluh, Sebab hadir mereka adalah anugerah. Meski langkahku sering tertatih, ...

Tangisan Sepi

Debu jalan tak terusik. Awan-awan saling berbisik. Rerumputan tak sudi melirik. Sebegitu aku terpandang munafik. Aku meringkup dalam keramaian. Jiwa hilang tanpa kepastian. Bila kesadaran terlalu menyakitkan. Maka bungkamlah aku kehampaan.